Dari Desa ke Dunia Digital: Rofi Bayu Darmawan dan Gerakan Kampung Marketer Tanjungmuli

CenterSoboratan
0

 


Purbalingga, Jawa Tengah — Sebuah desa di lereng perbukitan Purbalingga kini dikenal luas sebagai sentra talenta digital. Dari Desa Tanjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, lahir sebuah gerakan pemberdayaan yang mengubah cara pandang anak muda desa terhadap masa depan. Di balik gerakan itu, berdiri sosok Rofi Bayu Darmawan, penggagas Kampung Marketer.

Berangkat dari keprihatinan melihat keterbatasan lapangan kerja di desa, Rofi Bayu Darmawan memilih tidak sekadar merantau atau mengeluh. Ia justru menghadirkan solusi dengan memanfaatkan peluang ekonomi digital yang kian terbuka. Melalui Kampung Marketer, Rofi menghubungkan anak-anak muda desa dengan dunia pemasaran digital, tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

Kampung Marketer dirancang sebagai ekosistem belajar dan bekerja. Para pemuda desa dibekali keterampilan digital marketing, seperti pengelolaan media sosial, layanan pelanggan daring, penulisan konten, hingga pemasaran berbasis marketplace. Dengan pendampingan intensif, mereka mampu bekerja secara profesional melayani pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia.

“Desa bukan tempat tertinggal, desa adalah tempat bertumbuh. Yang dibutuhkan hanya akses, ilmu, dan keberanian untuk mencoba,” menjadi prinsip yang kerap disampaikan Rofi dalam setiap kesempatan.

Inisiatif ini membawa dampak nyata. Banyak pemuda yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pekerjaan, kini memiliki penghasilan mandiri dari desa. Lebih dari itu, Kampung Marketer turut menekan arus urbanisasi dan menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas lokal.

Keberhasilan Kampung Marketer Tanjungmuli juga mendorong lahirnya kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pelaku UMKM, startup, hingga lembaga pendidikan. Desa yang dulu sunyi, kini tumbuh sebagai ruang produktif berbasis ekonomi kreatif dan teknologi digital.

Bagi Rofi Bayu Darmawan, Kampung Marketer bukan sekadar program ekonomi, melainkan gerakan sosial. Ia percaya bahwa ketika pemuda desa diberi kepercayaan dan kesempatan, mereka mampu bersaing secara global tanpa harus meninggalkan akar budayanya.

Dari Tanjungmuli, Rofi membuktikan bahwa transformasi digital tidak selalu lahir dari kota besar. Terkadang, perubahan besar justru tumbuh dari desa—dari keberanian satu orang yang memilih pulang, membangun, dan memberdayakan sesama.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default