Banjarnegara - Menikah di usia 21 tahun pada 2018 menjadi awal harapan baru bagi Irfan dan sang istri, Okta. Pernikahan yang semestinya menjadi pintu kebahagiaan justru langsung dihadapkan pada kenyataan pahit. Tak lama setelah akad, Irfan harus menerima kenyataan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kehilangan pekerjaan di awal rumah tangga membuat langkahnya goyah, sementara tanggung jawab sebagai suami baru saja dimulai.
Hari-hari tanpa pekerjaan tetap menjadikan hidup Irfan dan istrinya berjalan penuh ketidakpastian. Masalah demi masalah datang silih berganti. Bahkan, ada masa yang begitu sulit hingga di bulan Ramadan, saat berbuka dan sahur mereka hanya mampu menyantap air putih dan nasi seadanya. Sebuah fase hidup yang tak semua orang sanggup ceritakan, namun justru menjadi fondasi mental Irfan di kemudian hari.
Cobaan Bertubi dan Keteguhan Bertahan
Upaya bangkit terus dilakukan. Irfan sempat bekerja di sebuah toko roti. Harapan kembali tumbuh, meski sederhana. Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sekitar empat bulan. Pandemi Covid-19 yang saat itu merebak kembali menghantam kehidupannya. Irfan kembali harus menerima kenyataan pahit: PHK untuk kedua kalinya.
Bagi sebagian orang, kegagalan berulang bisa mematahkan semangat. Namun bagi Irfan, fase-fase kelam ini justru perlahan menempa daya tahannya. Ia belajar satu hal penting: hidup tidak selalu memberi kepastian, tetapi selalu memberi pilihan—menyerah atau bertahan.
Ruang Dapoer: Titik Balik Kehidupan
Sekitar tiga tahun kemudian, pada 2022, sebuah ajakan datang dari kakaknya, Mas Fathul, untuk bergabung di Ruang Dapoer. Ajakan sederhana itu menjadi titik balik yang menentukan. Dunia baru terbuka, peluang baru terbentang. Irfan menjalaninya dengan kesungguhan, disiplin, dan rasa lapar untuk berubah.
Perlahan hasil mulai terlihat. Secara materi, hidup Irfan mengalami peningkatan signifikan: ia mampu memiliki mobil, membangun tim kerja, dan memiliki rumah. Namun bagi Irfan, capaian materi itu bukanlah puncak. Ia justru merasakan keberhasilan yang lebih besar—menemukan kembali makna hidupnya.
Ia mulai mampu menghargai dirinya sendiri, menghormati perjuangan istrinya, dan memandang hidup sebagai anugerah yang harus dijalani dengan tanggung jawab.
Perubahan Mindset dan Kesadaran Sosial
Momen training motivasi yang dikenalkan oleh kakaknya menjadi penguat perubahan tersebut. Cara pandang Irfan terhadap hidup berubah drastis. Hidup bukan lagi sekadar tentang bertahan atau mengejar penghasilan, melainkan tentang kehadiran dan kebermanfaatan.
Ia mulai menyadari bahwa hidup memiliki dimensi sosial: tentang mereka yang membutuhkan, mereka yang tertindas, dan mereka yang kurang beruntung. Kesadaran inilah yang akhirnya mengantarkannya bergabung dalam wadah kepemudaan, sebuah komunitas yang berjuang membangkitkan kesadaran anak muda terhadap tanggung jawab sosial dan perannya di masyarakat.
Ketika Irfan didaulat menjadi ketua komunitas pemuda tersebut, ia sadar amanah itu bukan sekadar jabatan. Ia dituntut belajar lebih banyak—dari para senior, dari tempat kerjanya, dan terutama dari sosok kakaknya yang menjadi panutan.
Doa Ibu dan Kehilangan yang Menguatkan
Di balik perjalanan hidupnya, Irfan meyakini satu kekuatan besar yang tak terlihat: doa ibunya. Sosok ibu yang selama ini sering menyebut namanya dalam harapan dan doa, akhirnya berpulang pada 8 Oktober 2025. Kepergian itu menjadi kehilangan besar, namun juga menghadirkan kebanggaan tersendiri.
Irfan merasa bersyukur, karena sebelum ibunya wafat, ia sempat menyaksikan perubahan putra yang dulu sering ia cemaskan—kini telah mampu menunaikan tanggung jawab sebagai anak dan sebagai manusia yang berguna. Kehilangan itu menyakitkan, namun kehilangan dalam posisi telah membuat ibu tersenyum adalah bentuk kebahagiaan yang tak tergantikan.
Bertahan di Tengah Tsunami dan Melahirkan Harapan Baru
Ketika gelombang besar kembali mengguncang dunia kerja—yang oleh Irfan disebut sebagai “tsunami di pekerjaannya saat ini”—ia tidak lagi oleng. Dengan sandaran hidup yang lebih kuat, visi yang lebih jelas, dan mental yang lebih matang, Irfan memilih tetap berdiri.
Bersama sang istri dan beberapa rekan, ia kini merintis produk mandiri berupa tepung instan serta jajanan seperti dimsum dan donat. Usaha ini bukan sekadar upaya ekonomi, melainkan simbol kemandirian dan keberanian menghadapi ketidakpastian.
Kisah tentang Ketangguhan dan Arti Hidup
Kisah Irfan adalah potret nyata perjuangan pemuda di tengah tekanan ekonomi, pandemi, dan krisis identitas. Dari hidup yang hanya bertahan dengan air putih dan nasi, hingga menemukan makna hidup yang lebih luas—tentang keluarga, pengabdian, dan kebermanfaatan.
Ia membuktikan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya soal apa yang dimiliki, tetapi tentang siapa diri kita setelah melewati badai. Sebuah kisah sunyi, namun sangat menginspirasi.


