Dari Buruh Bangunan hingga Menabur Harapan: Perjalanan Pak Edi Menemukan Makna Pulang Kampung

CenterSoboratan
0

 

Purbalingga - Berada di tengah hamparan persawahan, tidak serta-merta membuat Pak Edi sejak awal mampu melihat peluang. Justru dari sebuah dusun dengan nama yang mengingatkan pada kejayaan masa lalu—Majapahit—kehidupan baru bagi Pak Edi dan keluarga kecilnya perlahan menemukan arah. Dusun ini menjadi titik balik perjalanan panjang seorang perantau yang telah melewati berbagai kota sebelum akhirnya pulang dan mengabdi di tanah kelahiran, Purbalingga.

Lulus SMA pada tahun 2000, Pak Edi merantau ke Jakarta dan mengawali hidup sebagai buruh bangunan selama kurang lebih empat tahun. Hidup keras di ibu kota membentuk ketangguhan, namun belum memberi kepastian masa depan. Kesempatan baru datang saat ia memperoleh informasi dari Pak Eko tentang peluang bekerja sebagai kurir di Tangerang. Dari sanalah Pak Edi mulai mengenal dunia distribusi, jual-beli, hingga memahami ritme usaha dari bawah.

Tak berhenti sebagai pekerja lapangan, Pak Edi menyerap banyak pelajaran dari bosnya, terutama mengenai strategi jualan dan pemasaran. Pengalaman ini menjadi bekal penting ketika ia kemudian terjun ke dunia digital marketing, sebuah bidang yang saat itu masih asing bagi sebagian besar masyarakat desa. Namun, meski peluang terbuka di kota, Pak Edi dan keluarga mulai menyadari bahwa kualitas hidup tidak selalu identik dengan gemerlap urban.

Pulang Kampung dan Perubahan Cara Pandang

Pertengahan tahun 2014, Pak Edi memutuskan pulang kampung. Kehidupan desa pada awalnya berjalan sebagaimana umumnya—sederhana dan apa adanya. Hingga pada tahun 2016, sebuah training motivasi menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya terhadap hidup dan peran sosial. Dari sanalah muncul kesadaran bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu kesempatan besar, melainkan bisa dimulai dari lingkungan terdekat.

Kesempatan itu datang saat Pak Edi dipercaya menjadi bendahara Pokdakan Mina Sejati, sebuah kelompok pembudidaya ikan. Meski pengelolaannya tidak mudah dan menghadapi berbagai keterbatasan, pengalaman tersebut memperkenalkan Pak Edi pada realitas pemberdayaan masyarakat: butuh kesabaran, ketelatenan, dan konsistensi.

Mendorong Peran Ibu-Ibu dan Tantangan Pemberdayaan

Setahun terakhir, amanah sebagai Ketua RT membuka ruang pengabdian yang lebih luas. Pak Edi mencoba memberdayakan masyarakat, khususnya kaum ibu, melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Gayatri. Selama tujuh bulan, berbagai kegiatan telah dijalankan—mulai dari pelatihan hingga usaha kecil. Meski belum membuahkan hasil yang signifikan, Pak Edi menilai proses ini sebagai PR besar ke depan, bukan kegagalan.

Menurutnya, pemberdayaan masyarakat bukan soal cepat berhasil, melainkan membangun mental, kepercayaan diri, dan keberanian mencoba. “Kalau berhenti di tengah jalan, potensi itu tidak pernah benar-benar tumbuh,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.



Ruang Hidmat Lewat Dunia Persilatan

Di luar aktivitas sosial dan kemasyarakatan, Pak Edi juga aktif dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Rumahnya kini menjadi Rayon Padepokan Silat PSHT, tempat ia melatih sekitar 20 anak secara reguler, serta kelas privat di malam hari. Dari kelas privat tersebut, 15 warga berhasil disahkan sebagai warga PSHT pada tahun 2023 dan 2025—sebuah capaian yang menunjukkan konsistensi pembinaan karakter dan disiplin.

Bagi Pak Edi, silat bukan semata olahraga bela diri, melainkan sarana membentuk mental, akhlak, dan persaudaraan sekaligus sarana untuk berhidmat kepada sesama. Nilai-nilai inilah yang ia bawa dalam kehidupan sosialnya sehari-hari.

Amanah Besar dan Visi Jangka Panjang

Ruang pengabdian Pak Edi semakin luas ketika ia dipercaya menjadi Ketua Yayasan Terate Pemancar Cita. Amanah ini bukan jabatan yang berorientasi pada keuntungan, melainkan tanggung jawab besar untuk masa depan organisasi dan generasi muda. Salah satu agenda besarnya adalah mewujudkan Padepokan PSHT di Purbalingga sebagai pusat kegiatan, pelatihan, dan pembinaan karakter warga PSHT.

Visi tersebut mencerminkan perjalanan hidup Pak Edi sendiri—dari perantau yang mencari penghidupan, menjadi warga desa yang menanam harapan. Ia membuktikan bahwa pulang kampung bukan langkah mundur, melainkan strategi hidup untuk menemukan makna, membangun komunitas, dan meninggalkan jejak kebaikan yang nyata.

Inspirasi dari Sebuah Perjalanan Sunyi

Kisah Pak Edi adalah potret banyak anak bangsa yang pernah pergi jauh, lalu kembali dengan pengalaman, kesadaran, dan tanggung jawab sosial. Di tengah sawah dan kehidupan desa yang sederhana, ia memilih untuk tidak sekadar hidup, tetapi menghidupkan lingkungan sekitarnya.

Sebuah perjalanan sunyi, namun penuh makna—tentang pulang, mengabdi, dan merawat harapan.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default