Sedekah Subuh di Masjid Sayyid Kuning Onje: Gerakan Kepedulian yang Menguatkan Ketahanan Warga

CenterSoboratan
0

 

Purbalingga - Kegiatan Sedekah Subuh yang digelar secara rutin di Masjid Sayyid Kuning, Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, terus menumbuhkan semangat kepedulian sosial di tengah masyarakat. Gerakan ini dimotori oleh Hendrik Purwanto, dengan dukungan para donatur dari wilayah Desa Onje dan sekitarnya, sebagai wujud nyata solidaritas antarwarga.

Tidak sekadar sedekah uang, kegiatan ini menghadirkan sedekah berbasis kebutuhan nyata, berupa sembako, sayur-mayur, buah-buahan, serta kebutuhan rumah tangga lainnya. Pendekatan ini dinilai lebih tepat sasaran karena langsung menyentuh kebutuhan harian masyarakat.

Dari Masjid, Mengalir Kepedulian Sosial

Masjid Sayyid Kuning yang selama ini menjadi pusat ibadah, kini juga berfungsi sebagai pusat distribusi kebaikan. Seusai salat Subuh, warga yang hadir dipersilakan mengambil kebutuhan secukupnya untuk dibawa pulang. Tidak ada batasan kaku, namun semangat saling menghormati dan berbagi terasa sangat kuat.

Antusiasme warga terlihat jelas, terutama dari kaum ibu yang datang dengan tertib dan penuh rasa syukur. Mereka mengambil seperlunya, menyisakan kesempatan bagi warga lain. Pola ini mencerminkan kedewasaan sosial sekaligus kesadaran kolektif bahwa sedekah adalah milik bersama.

Peran Donatur Lokal dan Rantai Kebaikan

Keberlangsungan Sedekah Subuh ini tidak terlepas dari peran donatur lokal, baik perorangan maupun keluarga di Desa Onje dan wilayah sekitarnya. Bantuan yang diberikan tidak selalu dalam jumlah besar, namun konsistensi dan keikhlasan menjadi kunci utama.

Menariknya, sebagian donasi berasal dari hasil kebun, pekarangan, dan usaha kecil warga sendiri. Hal ini menciptakan rantai kebaikan yang berkelanjutan, di mana masyarakat tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga pelaku sedekah sesuai kemampuan masing-masing.

Dampak Sosial: Ketahanan Pangan dan Empati

Secara sosial, Sedekah Subuh memberikan dampak nyata dalam membantu ketahanan pangan keluarga, khususnya bagi warga dengan kondisi ekonomi terbatas. Di sisi lain, kegiatan ini juga menumbuhkan empati, rasa saling peduli, dan kebiasaan berbagi sejak dini, karena seringkali anak-anak ikut mendampingi orang tuanya.

Gerakan ini menjadi contoh bahwa solusi sosial tidak selalu harus menunggu bantuan dari luar. Dengan pengelolaan sederhana dan niat tulus, potensi desa dapat dioptimalkan untuk saling menguatkan.

Harapan agar Terus Berjalan dan Menginspirasi

Hendrik Purwanto berharap kegiatan Sedekah Subuh ini dapat terus berjalan secara istiqamah dan menjadi angin segar bagi masyarakat yang membutuhkan. Ia juga berharap gerakan ini dapat menginspirasi masjid-masjid lain untuk menghidupkan fungsi sosial masjid secara lebih luas.

“Selama masih ada kepedulian dan kepercayaan dari warga, Sedekah Subuh ini harus terus dijaga,” ungkapnya.

Masjid sebagai Pusat Peradaban Sosial

Sedekah Subuh di Masjid Sayyid Kuning bukan sekadar kegiatan berbagi, tetapi telah menjelma menjadi ruang perjumpaan, penguat ikatan sosial, dan simbol hidupnya nilai gotong royong desa. Dari subuh yang hening, lahir harapan baru—bahwa kepedulian kecil yang dilakukan bersama dapat membawa perubahan besar bagi masyarakat.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default