Upaya diversifikasi pertanian terus dilakukan untuk menjawab tantangan ekonomi petani di tengah fluktuasi harga komoditas konvensional. Salah satunya terlihat dalam kegiatan penanaman tanaman okra yang dilaksanakan pada 1 November 2023 di wilayah Desa Lodan, Temperak, dan Gunung Mulyo, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang.
Kegiatan ini didampingi langsung oleh Abdul Jalil, Koordinator Okra wilayah Jawa Tengah, bersama perwakilan dari PT Kelola Agro Makmur (PT KAM). Selain penanaman, agenda ini juga dimanfaatkan untuk meninjau pertumbuhan tanaman okra yang sebelumnya telah ditanam oleh beberapa petani perintis di wilayah tersebut.
Okra sebagai Alternatif Komoditas Bernilai Ekonomi
Okra dipilih bukan tanpa alasan. Tanaman ini dikenal memiliki masa panen relatif singkat, perawatan yang tidak terlalu rumit, serta pasar yang jelas dan berkelanjutan, khususnya untuk kebutuhan industri pangan dan ekspor. Bagi petani di wilayah Sarang dan sekitarnya, okra menjadi harapan baru di tengah keterbatasan pilihan komoditas yang selama ini cenderung bergantung pada musim dan harga pasar lokal.
Dalam kunjungan lapangan tersebut, Abdul Jalil bersama tim PT KAM memberikan penjelasan teknis terkait pola tanam, perawatan, hingga standar kualitas hasil panen yang dibutuhkan pasar. Pendekatan ini menjadi penting agar petani tidak hanya menanam, tetapi juga memahami arah dan tujuan budidaya.
Antusiasme Petani dan Proses Belajar Bersama
Antusiasme petani tampak jelas. Sejumlah petani hadir untuk melihat langsung praktik penanaman, berdiskusi, serta membandingkan pertumbuhan tanaman okra di lahan mereka masing-masing. Bagi sebagian petani, ini merupakan pengalaman pertama mengenal okra sebagai komoditas pertanian yang memiliki nilai jual stabil.
Proses ini tidak sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga membangun kepercayaan diri petani bahwa mereka mampu mengelola komoditas baru dengan pendampingan yang tepat. Kehadiran PT KAM sebagai mitra pemasaran turut memberikan rasa aman, karena hasil panen tidak dibiarkan mencari pasar sendiri.
Pendampingan sebagai Kunci Keberhasilan
Menurut Abdul Jalil, keberhasilan budidaya okra tidak hanya ditentukan oleh benih dan lahan, tetapi juga oleh pendampingan yang konsisten. Banyak kegagalan petani terjadi bukan karena kurangnya kerja keras, melainkan minimnya akses informasi dan pasar.
“Petani harus ditempatkan sebagai subjek, bukan sekadar pelaksana. Mereka perlu tahu kenapa menanam, untuk siapa menanam, dan bagaimana hasilnya bisa memberi dampak ekonomi,” ungkapnya di sela kegiatan.
Pendekatan inilah yang coba dibangun dalam kemitraan okra bersama PT KAM—menciptakan ekosistem pertanian yang saling menguatkan antara petani, pendamping, dan offtaker.
Menumbuhkan Optimisme dari Desa
Kegiatan penanaman okra di Desa Lodan, Temperak, dan Gunung Mulyo menjadi bukti bahwa inovasi pertanian dapat tumbuh dari desa, selama ada kemauan belajar dan kerja sama yang sehat. Meski masih dalam tahap pengenalan dan pengembangan, langkah ini menumbuhkan optimisme baru bagi petani setempat untuk meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi.
Ke depan, diharapkan semakin banyak petani yang berani mencoba, membentuk kelompok tanam, serta menjadikan okra sebagai salah satu komoditas unggulan alternatif di wilayah Rembang.
Pertanian Masa Depan Berangkat dari Keberanian Mencoba
Apa yang dilakukan para petani di Sarang hari ini adalah contoh nyata bahwa pertanian masa depan tidak hanya soal mempertahankan tradisi, tetapi juga berani membuka diri pada peluang baru. Dari penanaman sederhana hingga harapan ekonomi yang lebih baik, okra menjadi simbol bahwa perubahan selalu dimulai dari langkah kecil—namun dilakukan bersama.

