Dari Sawah ke Hidroponik: P4S Sawah Gunung Purbalingga Menyemai Harapan Pertanian Masa Depan

CenterSoboratan
0

 

Purbalingga – Di tengah tantangan sektor pertanian yang kian kompleks, mulai dari keterbatasan lahan hingga regenerasi petani, sebuah inisiatif berbasis desa hadir membawa angin segar. P4S Sawah Gunung, yang berlokasi di Desa Karanganyar, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, tumbuh sebagai Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) yang fokus pada pengembangan pertanian hidroponik.

Didirikan dan dikembangkan oleh Pak Yono, P4S Sawah Gunung menjadi bukti bahwa inovasi pertanian tidak harus lahir dari kota besar atau lembaga formal berskala nasional. Berangkat dari semangat kemandirian desa, pusat pelatihan ini hadir sebagai ruang belajar, praktik, sekaligus pembuktian bahwa pertanian modern dapat diakses oleh siapa saja.

 

Berawal dari Krisis, Lahir Inovasi Pertanian Desa

Cikal bakal P4S Sawah Gunung tidak lahir dari kondisi ideal, melainkan justru dari situasi krisis. Tahun 2019, saat pandemi Covid-19 mulai berdampak pada berbagai sektor kehidupan, banyak masyarakat kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan. Situasi tersebut menjadi titik refleksi sekaligus pemantik ide bagi Pak Yono untuk membangun sebuah model pertanian yang adaptif, berkelanjutan, dan dapat diakses masyarakat.

“Di saat banyak orang kesulitan pekerjaan, saya berpikir pertanian tidak boleh berhenti. Justru harus menjadi solusi,” demikian semangat yang melandasi langkah awal pendirian Sawah Gunung.

Dengan keterbatasan modal, Pak Yono memulai budidaya hidroponik dengan memanfaatkan tanah bengkok desa yang disewa secara mandiri dengan biaya Rp1 juta per tahun. Lahan tersebut memiliki luas sekitar 300 ubin, yang kemudian diolah menjadi area budidaya hidroponik sayuran.

Langkah ini terbilang visioner, karena pada masa itu budidaya hidroponik masih sangat jarang ditemui di Purbalingga, bahkan bisa disebut sebagai salah satu pionir hidroponik skala pelatihan dan produksi di wilayah tersebut.




 

Hidroponik sebagai Jawaban Tantangan Pertanian

P4S Sawah Gunung secara khusus mengembangkan pertanian hidroponik, sistem budidaya yang tidak bergantung pada tanah dan cocok diterapkan di lahan terbatas. Metode ini dinilai relevan dengan kondisi pertanian saat ini, terutama bagi generasi muda yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan lahan.

Melalui hidroponik, peserta pelatihan tidak hanya diajarkan teknik menanam sayuran, tetapi juga diperkenalkan pada manajemen produksi, efisiensi biaya, hingga peluang pasar, termasuk potensi komoditas yang bernilai ekspor.


 

Pelatihan Terjangkau dan Berbasis Praktik

Salah satu program unggulan P4S Sawah Gunung adalah pelatihan hidroponik selama enam hari dengan biaya yang relatif terjangkau, yakni sekitar Rp300.000. Pelatihan ini dirancang berbasis praktik lapangan, sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan langsung yang dapat diterapkan setelah pelatihan selesai.

Model pelatihan yang sederhana namun aplikatif ini menjadikan P4S Sawah Gunung sebagai pilihan belajar bagi petani pemula, pelaku UMKM pertanian, hingga masyarakat umum yang ingin memulai usaha hidroponik.

P4S Pratama dengan Peran Strategis

Dalam klasifikasi kelembagaan, P4S Sawah Gunung masuk dalam kategori P4S Pratama, yang berarti memiliki peran pembinaan pada sektor perkebunan, termasuk pengembangan komoditas berorientasi ekspor. Meski berstatus Pratama, kontribusinya terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian di tingkat desa dinilai signifikan.

Tidak hanya sebagai pusat pelatihan, P4S Sawah Gunung juga telah menyediakan Tempat Uji Kompetensi (TUK) hidroponik, yang memungkinkan peserta mengukur dan mengakui kompetensi mereka secara lebih terstruktur.

P4S, Pilar Kemandirian Pertanian Desa

Secara umum, Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) merupakan sarana pelatihan yang didirikan dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat desa, dengan pendampingan dan pembinaan dari Kementerian Pertanian. Kehadiran P4S menjadi jembatan penting dalam mentransfer pengetahuan, teknologi, dan inovasi pertanian dari praktik lapangan langsung kepada masyarakat.

Dalam konteks ini, P4S Sawah Gunung menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan pertanian berbasis komunitas mampu memperkuat kemandirian desa, membuka peluang ekonomi baru, serta menumbuhkan kembali minat generasi muda terhadap dunia pertanian.

Dari Lahan Terbatas Menuju Ekosistem Pertanian Terpadu

Seiring berjalannya waktu, P4S Sawah Gunung tidak hanya berhenti pada pengembangan hidroponik. Saat ini, masih terdapat sekitar 400 ubin lahan yang belum dimanfaatkan, yang ke depan direncanakan akan dikembangkan melalui kolaborasi bersama kelompok masyarakat sekitar.

Rencana pengembangan tersebut meliputi:

  • Budidaya ikan air tawar sebagai sumber protein dan pendapatan tambahan

  • Penanaman pisang Cavendish (Sunpride) sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi

  • Pengembangan ternak kambing, untuk mendukung sistem pertanian terpadu (integrated farming)

Konsep kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertanian desa yang saling menguatkan, tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat sekitar.

Persaingan Ketat, Pasar Masih Terbuka

Pak Yono tidak menutup mata terhadap realitas bahwa saat ini budidaya hidroponik semakin diminati, sehingga persaingan antar pelaku usaha pun semakin ketat. Namun demikian, ia menilai peluang pasar masih sangat terbuka lebar, terutama untuk produk sayuran segar berkualitas yang dibutuhkan rumah tangga, restoran, katering, hingga pasar modern.

“Selama kualitas dijaga dan kontinuitas produksi terpenuhi, pasar selalu ada,” menjadi prinsip yang terus dipegang dalam mengembangkan Sawah Gunung.

Hal inilah yang kemudian mendorong P4S Sawah Gunung tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga transfer pengetahuan, melalui pelatihan dan uji kompetensi, agar semakin banyak masyarakat yang mampu bersaing secara sehat di sektor pertanian modern.

Inspirasi dari Desa untuk Ketahanan Pangan

Apa yang dilakukan Pak Yono melalui P4S Sawah Gunung menunjukkan bahwa krisis dapat melahirkan peluang, asalkan direspon dengan inovasi dan keberanian mengambil langkah. Dari lahan bengkok desa yang disewa murah, lahir sebuah pusat pelatihan pertanian yang kini menjadi rujukan pembelajaran hidroponik di Purbalingga.

P4S Sawah Gunung bukan hanya tempat bertani, tetapi ruang tumbuh bagi harapan—bahwa desa mampu mandiri pangan, membuka lapangan kerja, dan menjadi motor perubahan di tengah tantangan zaman.

Apa yang dilakukan Pak Yono melalui P4S Sawah Gunung bukan sekadar mengajarkan teknik bercocok tanam, tetapi menanamkan pola pikir baru tentang pertanian: bahwa bertani bisa modern, produktif, dan menjanjikan secara ekonomi.

Dari Karanganyar, Purbalingga, P4S Sawah Gunung menjadi pengingat bahwa masa depan pertanian Indonesia dapat dimulai dari desa—dari tangan-tangan petani yang mau belajar, berinovasi, dan berbagi pengetahuan untuk generasi berikutnya.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default