Belakangan ini, ruang media sosial diramaikan oleh perdebatan narasi antara figur-figur influencer keuangan. Nama Timothy Ronald disebut-sebut “menyenggol” pandangan Theodoric, sosok yang konsisten mengajak publik—terutama generasi muda—untuk hidup dan berpikir lebih realistis dalam membangun kekayaan.
Di balik hiruk-pikuk perdebatan itu, tersimpan persoalan yang jauh lebih besar: krisis cara pandang generasi muda terhadap uang, proses, dan makna sukses.
Realitas yang Sering Tak Ingin Didengar
Ajakan untuk “hidup realistis” sering kali terdengar tidak menarik, bahkan dianggap pesimis. Padahal, data berbicara sebaliknya. Fakta menunjukkan bahwa:
-
Lebih dari 99,9% masyarakat Indonesia tidak memiliki kekayaan di atas 1 juta dolar AS (sekitar Rp16 miliar).
-
Bahkan 99,99% tidak memiliki kekayaan di atas 10 juta dolar AS (sekitar Rp110 miliar).
Artinya, sosok-sosok seperti Timothy Ronald atau Andre Hakim berada pada kategori ekstrem yang sangat langka—bukan standar umum yang bisa dijadikan patokan hidup mayoritas orang.
Menganggap pencapaian mereka sebagai sesuatu yang mudah ditiru justru berbahaya, karena mendorong ekspektasi palsu dan keputusan finansial yang gegabah.
Bahaya Konten Cepat Kaya
Setiap hari, anak muda disuguhi tontonan tentang:
-
cuan ratusan miliar,
-
grafik naik tajam,
-
gaya hidup mewah,
-
narasi “asal berani, pasti kaya”.
Masalahnya, konten tersebut sering tidak menyertakan sisi gelap: kegagalan, kerugian besar, tekanan mental, bahkan kehancuran finansial.
Akibatnya, banyak anak muda yang:
-
merasa “tertinggal”,
-
mulai halu,
-
sombong sebelum benar-benar mapan,
-
memaksakan gaya hidup di luar kemampuan,
-
bahkan menganggap utang sebagai simbol kesuksesan.
Theodoric dan Jalan Sunyi Realisme
Di tengah euforia tersebut, sosok seperti Theodoric dan KO Andrew justru mengambil jalur yang tidak populer: mengulang-ulang pesan tentang proses, konsistensi, dan realitas pahit pasar.
Mereka mengingatkan bahwa membangun kekayaan bukan sprint, melainkan maraton. Bukan soal satu momentum viral, tetapi akumulasi keputusan kecil yang benar dalam waktu lama.
Pesan mereka sederhana, tetapi berat untuk diterima:
Tidak semua orang ditakdirkan menjadi “anak ajaib finansial”, dan itu tidak apa-apa.
Pasar Keuangan Bukan Arena Ramah
Masuk ke pasar saham atau kripto bukan sekadar ikut tren. Itu adalah medan perang.
Di dalamnya ada:
-
bandar bermodal besar,
-
manajer investasi profesional,
-
algoritma,
-
informasi asimetris.
Retail yang masuk tanpa ilmu, mental, dan kesiapan sering kali hanya menjadi bahan bakar keuntungan pihak lain.
Kesadaran ini penting, agar anak muda tidak masuk pasar dengan mental judi, apalagi sekadar FOMO.
Pelajaran dari Kejujuran
Narasi ini menjadi semakin kuat ketika disertai pengakuan jujur: rugi ratusan juta di kripto, sementara masih harus melunasi KPR ratusan juta rupiah.
Ini bukan kisah kegagalan, melainkan pelajaran mahal tentang realitas hidup. Bahwa pasar tidak peduli siapa kita. Bahwa kesalahan keputusan finansial akan tetap menagih harga—cepat atau lambat.
Refleksi untuk Generasi Muda
Berita ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan:
-
Kekayaan sejati dibangun, bukan disulap.
-
Proses tidak bisa dilompati.
-
Kesombongan datang sebelum kejatuhan.
-
Standar sukses palsu hanya akan melahirkan tekanan dan penyesalan.
Dan yang paling penting:
Tidak ada orang lain yang bisa disalahkan atas keputusan finansial kita, selain diri kita sendiri.
Menjadi Realistis, Bukan Pesimis
Hidup realistis bukan berarti mematikan mimpi. Justru sebaliknya—itu cara paling sehat untuk menjaga mimpi tetap hidup, tanpa menghancurkan diri sendiri di tengah jalan.
Di era banjir atensi dan ilusi kekayaan instan, keberanian terbesar generasi muda hari ini mungkin bukan menjadi kaya cepat, tetapi berani hidup waras, sadar risiko, dan setia pada proses.
