Di Balik “Game of Attention”: Ketika Popularitas Mengalahkan Moral dan Mengancam Satu Generasi

CenterSoboratan
0

 


Di era media sosial, perhatian telah berubah menjadi mata uang baru. Siapa yang paling viral, dialah yang dianggap paling benar. Namun di balik hiruk-pikuk algoritma dan euforia popularitas, muncul pertanyaan mendasar: ke mana arah pendidikan, moral, dan masa depan generasi muda jika hidup hanya dikejar oleh perhatian sesaat?

Pesan keras namun reflektif ini disampaikan oleh seorang pelaku pasar senior yang telah hampir dua dekade berkecimpung di dunia keuangan. Ia tidak sedang menggurui, tetapi memberi peringatan—bahwa “game of attention” yang dimainkan tanpa kendali bukan hanya merusak individu, tetapi berpotensi menghancurkan satu generasi.

Ketika Edukasi Didegradasi Menjadi “Scam”

Fenomena yang mengkhawatirkan hari ini adalah munculnya narasi bahwa sekolah tidak penting, guru tidak relevan, dan proses belajar hanyalah penghambat kesuksesan. Pendidikan formal sering diposisikan sebagai lawan dari kekayaan instan.

Padahal, menurutnya, sekolah bukan sekadar tempat mencari uang, melainkan ruang pembentukan karakter, nalar, etika, dan tanggung jawab sosial. Jika pendidikan dilecehkan, maka yang lahir bukan generasi bebas, melainkan generasi liar—tanpa kompas moral.

“Kalau kamu tidak suka sekolah, itu pilihanmu. Tapi jangan ajarkan bahwa sekolah itu sampah. Karena kalau anak-anak kita tidak bersekolah, ujungnya bukan kebebasan—tapi keterbelakangan,” ujarnya.

Gen Z, Instan, dan Bahaya Euforia

Generasi Z hidup di zaman serba cepat. Validasi datang dari jumlah views, likes, dan followers. Kesuksesan diukur dari jam tangan mahal, mobil mewah, dan narasi “sukses muda”.

Namun pesan ini menegaskan satu hal penting:
tidak ada hubungan langsung antara simbol kemewahan dan kemampuan finansial yang sesungguhnya.

Jam tangan mahal tidak otomatis mencerminkan pemahaman market. Mobil sport tidak menjamin kedewasaan berpikir. Ketika simbol dipisahkan dari substansi, yang lahir hanyalah ilusi keberhasilan.

Crypto, Persepsi Publik, dan Risiko Sosial

Dalam konteks dunia keuangan modern, figur publik yang mendapat label “raja” atau “ikon” industri membawa beban besar. Ketika satu figur jatuh—bukan hanya individu yang runtuh, tetapi kepercayaan publik terhadap satu ekosistem bisa ikut hancur.

Jika satu tokoh besar dinyatakan bersalah, publik awam tidak akan membedakan antara oknum dan sistem. Crypto bisa dicap judi. Saham dianggap penipuan. Broker dianggap musuh masyarakat.
Di sinilah persoalan bergeser: dari konflik finansial menjadi konflik sosial.

Make Money with Moral

Ada satu prinsip yang ditekankan berulang kali:
Make money with moral.

Hidup bukan hanya tentang angka. Kekayaan tanpa hikmah adalah kehampaan. Jackpot tanpa proses tidak melahirkan kebijaksanaan. Bahkan, sering kali justru membawa kehancuran.

Lebih baik mengalami proses panjang yang membentuk karakter, daripada mendapatkan lonjakan kekayaan tanpa pemahaman. Karena hidup tidak menjual pelajaran—pelajaran hidup harus dibeli dengan pengalaman.

Kesombongan dan Ilusi Kebenaran

Salah satu titik paling berbahaya dalam perjalanan manusia adalah saat merasa dirinya paling benar. Di titik itulah kesalahan paling besar sering terjadi.

Sejarah, bahkan spiritualitas, telah mengajarkan:
kesombongan selalu runtuh oleh beratnya sendiri.

Ketika seseorang merasa “on the right track” tanpa koreksi, tanpa refleksi, dan tanpa kerendahan hati, maka kehancuran hanya soal waktu.

Pelajaran Mahal, Tapi Bernilai

Kerugian miliaran rupiah tidak selalu berarti kegagalan. Bisa jadi itu adalah biaya pendidikan kehidupan tingkat lanjut. Pelajaran yang tidak bisa dibeli di bangku sekolah, tidak dijual di seminar, dan tidak tersedia di buku mana pun.

“Kalau kamu kehilangan tiga ratus juta di usia 19 tahun untuk belajar hidup, itu murah. Karena dengan hikmah itu, kamu bisa menjaga dirimu saat kelak memegang triliunan.”

Menjaga Satu Generasi

Pada akhirnya, pesan ini bukan tentang uang, bukan tentang crypto, dan bukan tentang satu individu.
Ini tentang tanggung jawab moral untuk menjaga satu generasi agar tidak tersesat oleh euforia, instanisme, dan kesombongan digital.

Karena apa artinya menjadi sangat kaya, jika dikenang sebagai orang yang merusak masa depan anak-anak bangsa?

Berita ini menjadi pengingat:
Bahwa proses adalah kemewahan sejati.
Bahwa moral adalah fondasi kekayaan.
Dan bahwa menjaga generasi jauh lebih penting daripada memenangkan perhatian sesaat.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default