Meneladani Rasul dan Menguatkan Solidaritas Sosial: Soboratan Preneur Bagikan Sembako di Momentum Maulid Nabi dan Hari Santri Nasional

CenterSoboratan
0

 

Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional menjadi ruang refleksi sekaligus aksi nyata bagi Komunitas Soboratan Preneur. Tidak berhenti pada seremonial peringatan semata, komunitas ini memilih meneladani ajaran Rasulullah melalui kegiatan sosial pembagian sembako berupa beras gratis kepada masyarakat yang kurang mampu.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di wilayah Desa Kaliwinasuh, Kecamatan Purwareja Klampok, dengan dua titik utama, yakni YLPP Al Qoim dan Pondok Pesantren Miftahul Mubtadiin. Kedua lokasi ini dipilih karena menjadi pusat pembinaan anak-anak, santri, dan masyarakat sekitar yang selama ini hidup berdampingan dengan realitas ekonomi yang tidak selalu mudah.

Sebagai pusat distribusi, YLPP Al Qoim dipilih sebagai lokasi pengambilan sembako. Selain mudah dijangkau warga, tempat ini juga selama ini dikenal sebagai ruang pembinaan sosial dan pendidikan yang dekat dengan masyarakat, sehingga proses pendistribusian dapat berjalan tertib dan tepat sasaran.

YLPP Al Qoim sebagai Titik Temu Sosial

Pemilihan YLPP Al Qoim sebagai tempat pengambilan sembako bukan tanpa alasan. Selain memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat sekitar, YLPP Al Qoim juga menjadi simbol ruang aman, ruang belajar, dan ruang pelayanan sosial. Dengan menjadikannya titik distribusi, kegiatan ini sekaligus memperkuat fungsi lembaga sosial sebagai pusat penguatan masyarakat.

Warga Dusun Pagendotan tampak antusias dan tertib saat mengambil bantuan. Suasana hangat, penuh kebersamaan, dan rasa syukur terasa kuat sepanjang kegiatan berlangsung. 

 

Makna Maulid dan Hari Santri dalam Aksi Nyata

Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya dimaknai sebagai peringatan kelahiran Rasulullah, tetapi juga sebagai momentum meneladani nilai-nilai perjuangan, kepedulian, dan keberpihakan kepada kaum dhuafa. Begitu pula Hari Santri Nasional, yang mengingatkan kembali peran santri dan pesantren dalam menjaga nilai keislaman sekaligus kebangsaan.

Soboratan Preneur mencoba menerjemahkan dua momentum besar ini dalam bentuk aksi konkret, bukan sekadar narasi. Pembagian beras kepada masyarakat kurang mampu menjadi simbol kepedulian sekaligus penguatan solidaritas sosial, khususnya di tingkat akar rumput.

 

Menyentuh yang Paling Membutuhkan

Penerima bantuan berasal dari kalangan masyarakat sekitar pesantren dan lembaga sosial yang dinilai paling membutuhkan. Proses pembagian dilakukan dengan tertib dan penuh kehangatan, tanpa sekat antara pemberi dan penerima. Anak-anak, orang tua, hingga pengurus pesantren tampak hadir dalam suasana yang sederhana namun sarat makna.

Bagi sebagian penerima, bantuan beras tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun dalam realitas ekonomi yang serba menantang, bantuan itu menjadi bentuk perhatian yang nyata—bahwa mereka tidak sendiri, dan masih ada komunitas yang peduli terhadap kondisi mereka.

Soboratan Preneur: Komunitas yang Menghidupkan Nilai Sosial

Kegiatan ini menegaskan jati diri Soboratan Preneur sebagai komunitas yang tidak hanya bergerak di ruang wirausaha dan pemberdayaan, tetapi juga aktif mengisi ruang sosial dan kemanusiaan. Bagi Soboratan Preneur, keberdayaan ekonomi harus berjalan seiring dengan kepedulian sosial.

Nilai tersebut sejalan dengan semangat Islam rahmatan lil ‘alamin dan tradisi pesantren yang mengajarkan kebermanfaatan bagi sesama. Dengan menggandeng YLPP Al Qoim dan Pondok Pesantren Miftahul Mubtadiin, Soboratan Preneur memperkuat kolaborasi antara komunitas, lembaga sosial, dan pesantren sebagai pusat peradaban masyarakat.

Soboratan Preneur: Komunitas yang Menghidupkan Nilai Sosial

Kegiatan ini menegaskan jati diri Soboratan Preneur sebagai komunitas yang tidak hanya bergerak di ruang wirausaha dan pemberdayaan, tetapi juga aktif mengisi ruang sosial dan kemanusiaan. Bagi Soboratan Preneur, keberdayaan ekonomi harus berjalan seiring dengan kepedulian sosial.

Nilai tersebut sejalan dengan semangat Islam rahmatan lil ‘alamin dan tradisi pesantren yang mengajarkan kebermanfaatan bagi sesama. Dengan menggandeng YLPP Al Qoim dan Pondok Pesantren Miftahul Mubtadiin, Soboratan Preneur memperkuat kolaborasi antara komunitas, lembaga sosial, dan pesantren sebagai pusat peradaban masyarakat.

Harapan: Berlanjut dan Meluas

Soboratan Preneur berharap kegiatan sosial semacam ini tidak berhenti pada momentum tertentu, tetapi dapat menjadi gerakan berkelanjutan. Dengan keterlibatan berbagai pihak, komunitas ini ingin terus hadir sebagai jembatan kebaikan antara mereka yang mampu dan mereka yang membutuhkan.

Maulid Nabi dan Hari Santri Nasional pun menjadi lebih bermakna—bukan hanya diperingati, tetapi dihidupkan melalui aksi nyata.

Meneladani Rasul dengan Kepedulian

Di tengah tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat, kegiatan Soboratan Preneur ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW masih sangat relevan: peduli kepada yang lemah, berbagi dengan ikhlas, dan menghadirkan kebermanfaatan di tengah umat.

Dari Kaliwinasuh, Soboratan Preneur menegaskan bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari langkah kecil—dari sekarung beras, dari niat baik, dan dari kepedulian yang tulus.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default