Di tengah rutinitas masyarakat yang kian padat dan serba cepat, kepedulian terhadap nilai-nilai sosial dan spiritual sering kali terpinggirkan. Namun hal itu justru dilawan oleh Komunitas Soboratan Preneur bersama remaja dan anak-anak binaan YLPP Al Qoim, melalui kegiatan bersih-bersih makam/kuburan desa Kaliwinasuh, Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara, yang dilaksanakan secara rutin mingguan.
Kegiatan ini menjadi pemandangan yang menghangatkan hati. Sejak pagi hingga menjelang siang hari, orang tua, remaja, dan anak-anak tampak bergotong royong membersihkan area makam—mulai dari mencabut rumput liar, menyapu dedaunan, hingga merapikan area sekitar pusara. Kebersamaan dan semangat terlihat jelas, tanpa sekat usia maupun latar belakang.
Melampaui Tradisi Tahunan, Menjadi Gerakan Kesadaran
Secara umum, tradisi membersihkan makam di desa-desa biasanya dilakukan setahun sekali, khususnya menjelang bulan Syuro. Namun kegiatan yang dilakukan Soboratan Preneur dan YLPP Al Qoim ini melampaui kebiasaan tersebut.
Dengan menjadikannya sebagai kegiatan rutin, mereka tidak hanya membersihkan secara fisik, tetapi juga menanamkan nilai kesadaran bahwa makam bukan sekadar tempat yang dikunjungi sesekali, melainkan ruang pengingat tentang kehidupan, kematian, dan tanggung jawab sosial antargenerasi.
Masyarakat sekitar pun memberikan apresiasi positif. Banyak warga menilai kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian nyata yang jarang dilakukan, terlebih dengan melibatkan anak-anak sejak usia dini.
Pendidikan Karakter dari Tanah Makam
Bagi anak-anak dan remaja YLPP Al Qoim, kegiatan ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang sangat kontekstual. Mereka belajar tentang:
-
adab dan penghormatan kepada para leluhur,
-
makna kebersihan sebagai bagian dari iman,
-
nilai gotong royong dan kerja ikhlas,
-
serta kesadaran bahwa hidup tidak hanya tentang diri sendiri.
Dalam kesederhanaannya, kegiatan ini mengajarkan pelajaran besar: bahwa kepedulian sosial bisa dimulai dari lingkungan terdekat, bahkan dari tempat yang sering kali diabaikan.
Harapan dari YLPP Al Qoim: Menanamkan Nilai Sejak Dini
Salah satu pengurus YLPP Al Qoim, Ibu Yuni, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi sarana pembentukan karakter jangka panjang bagi anak-anak asuh.
Ia berharap, melalui kegiatan rutin seperti ini, anak-anak tidak hanya tumbuh secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan batin dan sosial. Menurutnya, membersihkan makam adalah cara sederhana namun kuat untuk mengenalkan nilai keikhlasan, empati, dan kesadaran bahwa hidup memiliki batas.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa hidup ini ada akhirnya, sehingga sejak kecil mereka dibiasakan berbuat baik, peduli, dan tidak merasa tinggi hati,” kurang lebih menjadi pesan moral yang ingin ditanamkan.
Harapan Soboratan Preneur: Dari Aksi Kecil Menuju Perubahan Besar
Sementara itu, Komunitas Soboratan Preneur memandang kegiatan ini sebagai bagian dari misi besar mereka dalam mengisi ruang-ruang pengabdian sosial dan kemasyarakatan.
Harapan yang dibangun tidak berhenti pada kebersihan makam semata, tetapi pada lahirnya generasi yang:
-
peduli lingkungan dan sosial,
-
memiliki empati lintas usia,
-
serta terbiasa berkontribusi tanpa pamrih.
Soboratan Preneur percaya bahwa perubahan besar sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Kegiatan bersih makam ini menjadi simbol bahwa pendidikan karakter dan nilai kemanusiaan tidak selalu membutuhkan fasilitas besar, tetapi membutuhkan keteladanan dan kesinambungan.
Kebersamaan yang Menghidupkan Nilai Gotong Royong
Antusiasme peserta—mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua—menjadi bukti bahwa kegiatan ini telah diterima sebagai ruang kebersamaan. Canda ringan, kerja bersama, dan rasa saling menjaga menjadikan suasana kegiatan tidak terasa sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan bersama.
Kegiatan yang telah berjalan cukup lama ini kini bukan hanya agenda rutin, tetapi telah menjelma menjadi identitas gerakan sosial kecil di Desa Kaliwinasuh.
Menjaga yang Pergi, Mendidik yang Hidup
Membersihkan makam mungkin terlihat sederhana. Namun di balik kegiatan itu, tersimpan pesan mendalam: merawat ingatan tentang mereka yang telah pergi, sembari mendidik mereka yang masih hidup.
Melalui kegiatan mingguan ini, Soboratan Preneur dan YLPP Al Qoim menunjukkan bahwa pembangunan manusia tidak selalu dimulai dari ruang kelas atau mimbar besar, tetapi bisa dimulai dari tanah makam—tempat manusia belajar tentang kerendahan hati, kepedulian, dan arti kebersamaan.



