Nama Purbalingga, sebuah kabupaten di Jawa Tengah, mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang. Namun di balik kesahajaan itu, Purbalingga memegang peran strategis dalam industri kecantikan global. Kabupaten ini dikenal sebagai pusat industri bulu mata dan rambut palsu (wig) kelas dunia, bahkan disebut sebagai produsen terbesar kedua di dunia setelah Guangzhou, Tiongkok—atau dalam sejumlah referensi industri, setelah Gwangju di Korea Selatan.
Citra ini bukan klaim kosong. Produk bulu mata dan rambut palsu asal Purbalingga telah menembus pasar Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok, menjadi bagian dari rantai pasok global industri kecantikan bernilai miliaran dolar.
Industri Global Berbasis Desa
Keunggulan utama industri bulu mata Purbalingga terletak pada sumber daya manusianya. Ribuan warga lokal—sebagian besar perempuan—terlibat langsung dalam proses produksi, baik melalui industri rumahan maupun pabrik berskala besar.
Berbeda dengan produksi massal berbasis mesin, bulu mata palsu Purbalingga dibuat dengan proses handmade berketelitian tinggi. Setiap helai melalui tahapan panjang: penganyaman rambut, pengelemannya secara presisi, pembentukan lengkung alami, hingga proses pemanasan oven untuk menghasilkan lentikan yang konsisten dan nyaman digunakan.
Inilah yang membuat produk Purbalingga memiliki nilai tambah tinggi, meski harus bersaing dengan produk negara lain yang bermain di segmen harga murah.
Skala dan Dampak Ekonomi
Sejak tahun 2008, Pemerintah Kabupaten Purbalingga secara sadar membangun dirinya sebagai pusat manufaktur rambut dan bulu mata palsu kedua di dunia. Hasilnya, kini tercatat:
-
18 industri manufaktur wig dan bulu mata palsu, mayoritas Penanaman Modal Asing (PMA)
-
Menyerap sekitar 30.000 tenaga kerja lokal
-
Menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di sektor manufaktur Jawa Tengah
Bupati Purbalingga saat itu, Triyono Budi Sasongko, menyatakan keyakinannya setelah melakukan kunjungan langsung ke industri wig di Korea Selatan.
“Dari hasil kunjungan itu, saya percaya industri wig Purbalingga adalah yang nomor satu di Indonesia dan nomor dua di dunia,” ujarnya.
Kepercayaan investor asing terhadap Purbalingga menunjukkan bahwa kota kecil pun bisa menjadi simpul penting industri global, asalkan memiliki tenaga kerja terampil, stabilitas sosial, dan dukungan kebijakan yang konsisten.
Antara Investasi Asing dan Realitas Fiskal
Namun, di balik keberhasilan tersebut, terdapat realitas yang perlu disikapi secara jujur. Pemerintah daerah mengakui bahwa kontribusi langsung PMA terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) relatif terbatas, terutama hanya dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Pajak ekspor dan sebagian besar penerimaan fiskal dinikmati oleh pemerintah pusat.
Meski demikian, Pemkab Purbalingga tetap mendukung investasi asing karena dampak sosial-ekonominya jauh lebih besar.
“PMA memberi jalan keluar dari persoalan pengangguran. Ini yang paling nyata dirasakan masyarakat,” tegas Bupati.
Dengan rata-rata serapan sekitar 575 tenaga kerja per proyek, investasi asing di Purbalingga bahkan melampaui rata-rata penyerapan tenaga kerja di Jawa Tengah, Jawa Barat, maupun DKI Jakarta.
Tantangan: Pandemi dan Persaingan Global
Pandemi Covid-19 menjadi ujian berat bagi industri ini. Penurunan permintaan global sempat menyebabkan turunnya volume ekspor dan terjadinya PHK di sejumlah pabrik. Selain itu, produsen Purbalingga harus bersaing dengan industri dari Tiongkok yang agresif bermain harga murah.
Namun, keunggulan kualitas, konsistensi handmade, dan kepercayaan buyer internasional membuat industri ini tetap bertahan dan perlahan bangkit. Inovasi desain, diversifikasi produk, serta efisiensi produksi menjadi kunci untuk menjaga daya saing.
Peran Pemerintah dan Arah Masa Depan
Pemerintah daerah melalui dinas terkait aktif:
-
Mempromosikan produk lokal ke pasar internasional
-
Menghubungkan pelaku industri dengan buyer global
-
Memfasilitasi data potensi industri melalui platform resmi seperti SIPINTAS Purbalingga
-
Mendorong penguatan industri rumahan agar terhubung dengan rantai pasok besar
Sentra industri ini banyak terkonsentrasi di wilayah Karangbanjar, Bojongsari, dan sekitarnya, dengan perusahaan besar seperti PT Hyup Sung Indonesia dan PT Hasta Pustaka Sentosa menjadi penggerak utama.
Inspirasi dari Purbalingga
Kisah industri bulu mata dan rambut palsu Purbalingga adalah cermin penting pembangunan Indonesia:
-
Bahwa daya saing global tidak selalu lahir dari kota besar
-
Bahwa ketekunan tangan-tangan desa mampu menghasilkan produk kelas dunia
-
Bahwa industri padat karya bisa menjadi solusi nyata pengentasan pengangguran
Dari desa-desa di Purbalingga, produk kecantikan berstandar internasional lahir setiap hari, mengalir ke berbagai belahan dunia. Di balik setiap helai bulu mata palsu itu, tersimpan cerita tentang kerja keras, ketelitian, dan harapan hidup yang lebih baik.
Purbalingga bukan sekadar kota kecil di Jawa Tengah. Ia adalah simpul global, tempat di mana ekonomi dunia bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat desa.
