Purbalingga, Kota Knalpot: Dari Bengkel Desa Menjadi Penopang Industri Otomotif Nasional

CenterSoboratan
0

 


Bagi sebagian masyarakat Indonesia, knalpot hanyalah komponen kendaraan. Namun bagi warga Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, knalpot memiliki makna yang jauh lebih besar: sumber penghidupan, identitas daerah, sekaligus simbol ketangguhan ekonomi rakyat. Tak berlebihan jika Purbalingga kemudian dikenal luas sebagai “Kota Knalpot”, sebuah julukan yang lahir dari kerja keras lintas generasi.

Di kabupaten tempat lahir Jenderal Sudirman ini, industri knalpot bukan sekadar usaha kecil, melainkan urat nadi ekonomi lokal yang telah tumbuh, bertahan, dan berkembang selama puluhan tahun.

Akar Sejarah: Dari Logam Bekas hingga Knalpot Nasional

Sejarah industri knalpot Purbalingga bermula jauh sebelum istilah “IKM” populer. Pada 1950-an, Dusun Sayangan (Pesayangan) di Kelurahan Purbalingga Lor dikenal sebagai sentra kerajinan logam. Warga memanfaatkan sisa potongan drum bekas untuk membuat peralatan rumah tangga seperti wajan, panci, hingga perlengkapan gamelan.

Perubahan besar terjadi pada 1977, ketika salah satu pengrajin mencoba memproduksi knalpot kendaraan. Tak disangka, permintaan pasar terus meningkat. Inilah titik balik yang mengubah wajah ekonomi desa.

Memasuki 1980-an, pemasaran knalpot Purbalingga mulai menembus pasar luar daerah, menjangkau berbagai kota di Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. Pada 1990-an, industri ini berkembang pesat dan menyebar ke wilayah Kembaran Kulon, Galuh, Patemon, Mrebet, Gembong, Wirasana, hingga Babakan.

Dari bengkel-bengkel sederhana di desa, industri knalpot Purbalingga tumbuh menjadi klaster industri rakyat yang kokoh.

Data Bicara: Pilar Ekonomi Daerah

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, dari 10.514 sentra IKM di Indonesia, sebanyak 1.592 sentra berada di Jawa Tengah. Salah satu yang paling menonjol adalah sentra IKM knalpot Purbalingga.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menegaskan bahwa sentra ini telah puluhan tahun menjadi penopang industri besar, khususnya sektor otomotif.

“Hingga 2020, jumlah IKM di sentra knalpot Purbalingga mencapai 204 unit usaha, dengan tenaga kerja 1.326 orang,” ungkap Reni.

Dari sisi produksi, sepanjang tahun 2020:

  • Volume produksi mencapai 852.650 unit knalpot

  • Naik dari tahun sebelumnya yang sebesar 803.750 unit

Dari sisi ekonomi:

  • Nilai produksi melonjak hampir 4 kali lipat dalam 10 tahun
    dari Rp 37 miliar (2010) menjadi Rp 138,7 miliar (2020)

  • Nilai investasi meningkat 3 kali lipat
    dari Rp 1,6 miliar menjadi Rp 5,2 miliar

“Ini pertumbuhan yang luar biasa besar sebagai ikon industri Purbalingga,” tegas Reni.

Diakui Dunia Otomotif

Keunggulan knalpot Purbalingga tidak hanya diakui di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga internasional. Pemerintah Kabupaten Purbalingga menyebutkan bahwa produk knalpot daerah ini telah digunakan oleh produsen otomotif ternama dunia, termasuk Mercedes-Benz.

Selain itu, beberapa Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) seperti Toyota dan Honda juga memesan knalpot dari Purbalingga. Fakta ini membuktikan bahwa produk IKM desa mampu memenuhi standar industri global, baik dari sisi kualitas, presisi, maupun kontinuitas produksi.

Tak heran jika banyak brand besar menjadikan Purbalingga sebagai basis produksi, seperti Red Mufflers, DRC Racing, GT Speed Performance, dan berbagai merek lainnya—meski di sisi lain masih terdapat tantangan berupa produk tanpa merek dan tiruan.

Sentra Industri: Kolaborasi Rakyat dan Negara

Untuk memperkuat ekosistem industri, pemerintah membangun Sentra Industri Knalpot Purbalingga di bawah UPTD Pengembangan Industri Logam, beralamat di Jalan Kopral Tanwir, Purbalingga Lor.

Sentra ini menampung 42 tenant, dengan ragam usaha:

  • Produksi knalpot

  • Modifikasi bodi motor

  • Electroplating dan pewarnaan logam

  • Sparepart telekomunikasi

  • Bengkel bubut dan konstruksi

  • Penyedia bahan baku logam

Kawasan ini dikembangkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Sentra IKM 2017–2021. Namun pembangunan fisik saja tidak cukup.

“Pengembangan industri knalpot harus diikuti dengan peningkatan keterampilan SDM dan teknologi agar produk mampu menembus ATPM dan industri besar lainnya,” ujar Reni.

Lebih dari Knalpot: Ekosistem IKM Purbalingga

Selain knalpot, Purbalingga juga memiliki industri unggulan lain, seperti CV Abon Cap Koki, yang dirintis sejak 1968. Produk pangan ini telah mengantongi sertifikasi HACCP, Halal, merek terdaftar, dan ISO 22000:2018, berkat pendampingan Ditjen IKMA.

Hal ini menunjukkan bahwa IKM Purbalingga tumbuh dalam ekosistem yang saling menguatkan, antara industri logam, otomotif, dan pangan.

Inspirasi Pembangunan Berbasis Rakyat

Kisah industri knalpot Purbalingga adalah pelajaran penting bagi pembangunan nasional. Ia membuktikan bahwa:

  • Industri besar bisa tumbuh dari desa

  • Kearifan lokal mampu menjadi kekuatan global

  • Konsistensi, keterampilan, dan kolaborasi adalah kunci daya saing

Dari potongan drum bekas hingga terpasang di kendaraan kelas dunia, knalpot Purbalingga adalah simbol ketekunan rakyat kecil yang tak pernah berhenti berinovasi.

Dan selama api tungku para pengrajin masih menyala, selama palu dan mesin terus berdentang di bengkel-bengkel desa, Purbalingga akan tetap dikenang sebagai Kota Knalpot—kota yang membuktikan bahwa industri nasional bisa lahir dari tangan rakyat.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default