Jejaring Persaudaraan dan Ekonomi: Soboratan Preneur Terhubung Santripreneur Indonesia Melalui Mas Budiyono

CenterSoboratan
0

 

Yogyakarta – Kunjungan pengurus Soboratan Preneur ke Santripreneur Indonesia menjadi momentum penting dalam upaya memperluas jejaring pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Pertemuan ini terhubung melalui Mas Budiyono, seorang pengusaha sekaligus pengurus PSHT tingkat Provinsi, yang dikenal aktif membangun kolaborasi antara dunia usaha, komunitas, dan gerakan sosial.

Mas Budiyono, yang memiliki kedekatan personal dan komunikasi yang baik dengan KH Ahmad Sugeng Utomo (Gus Ut), melihat adanya kesamaan visi antara Soboratan Preneur dan Santripreneur Indonesia. Keduanya sama-sama bergerak dari basis akar rumput, menempatkan santri, pemuda, dan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan ekonomi.

Kunjungan tersebut berlangsung di kantor Santripreneur Indonesia yang beralamat di Jl. Malangan Raya No.509a, Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55163.

Dialog Langsung di Kantor Santripreneur Indonesia

Sebanyak tujuh orang pengurus Soboratan Preneur berkesempatan berdialog langsung dengan Gus Ut di kantornya. Suasana pertemuan berlangsung hangat, terbuka, dan penuh pertukaran gagasan. Diskusi tidak hanya membahas konsep kewirausahaan, tetapi juga menyentuh realitas sosial di lapangan: kondisi petani kecil, tantangan pemuda desa, keterbatasan akses modal, hingga pentingnya membangun karakter dan mental mandiri.

Dalam kesempatan tersebut, pengurus Soboratan Preneur memaparkan berbagai program yang selama ini dijalankan—mulai dari pendampingan usaha mikro, pertanian, peternakan, hingga kegiatan sosial dan edukasi kewirausahaan. Gus Ut menyambut baik paparan tersebut dan berbagi pengalaman panjangnya membangun Santripreneur Indonesia sebagai gerakan ekonomi berbasis nilai keislaman dan kebangsaan.

Santripreneur Indonesia: Ekonomi Berbasis Nilai dan Kemandirian

Santripreneur Indonesia merupakan gerakan yang didirikan dan dibina oleh KH Ahmad Sugeng Utomo (Gus Ut), dengan fokus utama pada pemberdayaan santri agar memiliki kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan nilai keilmuan, akhlak, dan kebangsaan.

Sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Gus Ut memadukan tradisi pesantren dengan semangat kewirausahaan. Santri tidak hanya didorong menjadi ahli ilmu agama, tetapi juga dibekali keterampilan usaha, manajemen, dan jejaring ekonomi, sehingga mampu berperan aktif dalam pembangunan masyarakat.

KH Ahmad Sugeng Utomo (Gus Ut): Menanam Jiwa Wirausaha di Kalangan Santri

Sosok KH Ahmad Sugeng Utomo, atau yang akrab disapa Gus Ut, dikenal sebagai pendiri sekaligus pembina Santripreneur Indonesia, sebuah gerakan nasional yang berfokus pada pembangunan jiwa kewirausahaan di kalangan santri dan alumni pesantren. Gagasan ini lahir dari kegelisahan Gus Ut melihat potensi besar santri yang selama ini belum sepenuhnya terhubung dengan kemandirian ekonomi.

Menurut Gus Ut, santri sejatinya memiliki modal sosial yang sangat kuat—kejujuran, kedisiplinan, kreativitas, serta ketekunan—nilai-nilai yang justru menjadi fondasi utama dalam dunia usaha. Sayangnya, potensi tersebut sering berhenti di ruang idealisme tanpa difasilitasi dengan keterampilan dan ekosistem bisnis yang memadai.

Santripreneur Indonesia: Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Lapangan Kerja

Santripreneur Indonesia hadir dengan misi utama mengubah paradigma santri, dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta lapangan usaha. Melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan, santri diarahkan untuk memahami dunia usaha secara praktis, realistis, dan berkelanjutan.

Sejak tahun 2019, Santripreneur Indonesia secara aktif menyelenggarakan Santripreneur Camp di berbagai kota. Program ini dirancang sebagai pelatihan intensif yang memadukan:

  • Motivasi kewirausahaan berbasis nilai pesantren

  • Pelatihan praktis bisnis dan manajemen usaha

  • Penguatan mental, karakter, dan kepemimpinan santri

Sasarannya adalah santri dan alumni pondok pesantren usia 17–27 tahun, dengan target jangka panjang mencetak ribuan wirausaha muda baru yang tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Visi Ekonomi Umat dan Kontribusi untuk Bangsa

Gus Ut menegaskan bahwa Santripreneur bukan sekadar program ekonomi, melainkan gerakan peradaban. Santri diharapkan tidak hanya mampu menghidupi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari solusi persoalan ekonomi bangsa—mulai dari pengangguran, kemiskinan, hingga ketimpangan akses usaha.

Gagasan besar Santripreneur Indonesia sendiri berawal dari ide Santripreneur Award, yang terinspirasi oleh momentum Hari Santri Nasional. Dari sana, konsep tersebut berkembang menjadi gerakan pelatihan dan pendampingan yang lebih sistematis dan berkelanjutan.

“Santri harus hadir di ruang-ruang strategis ekonomi, tanpa kehilangan jati dirinya,” menjadi salah satu pesan kunci yang terus disuarakan Gus Ut dalam setiap pelatihan dan pertemuan.

KH Ahmad Sugeng Utomo: Santri, Ulama, dan Visioner Ekonomi

Di balik gerakan Santripreneur berada sosok KH Ahmad Sugeng Utomo, seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki visi luas dalam pemberdayaan ekonomi berbasis nilai pesantren. Gus Ut percaya bahwa santri memiliki modal moral dan spiritual yang kuat, sehingga potensi mereka dalam dunia usaha harus dikembangkan secara terstruktur.

Menurut Gus Ut, santri sudah dibekali dengan ketangguhan mental, kedisiplinan, dan mindset yang relevan dengan prasyarat kewirausahaan, sehingga jika dibimbing dengan baik, mereka dapat menjadi solution provider dalam berbagai bidang ekonomi, termasuk UMKM dan usaha berbasis digital. Program Santripreneur Indonesia sendiri dirancang untuk membantu santri tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik, dukungan pembiayaan, produksi, dan pemasaran agar mampu bersaing di pasar.

Relevansi dengan Soboratan Preneur

Nilai-nilai yang diusung Santripreneur Indonesia memiliki irisan kuat dengan gerakan Soboratan Preneur, khususnya dalam menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan ekonomi. Pertemuan dan dialog antara pengurus Soboratan Preneur dengan Gus Ut membuka ruang refleksi bersama bahwa kemandirian ekonomi tidak bisa dilepaskan dari nilai, karakter, dan keberpihakan pada masyarakat kecil.

Kolaborasi lintas komunitas seperti ini diharapkan menjadi model gerakan ekonomi berbasis nilai, jejaring, dan keberlanjutan, yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa tercerabut dari akar budaya dan spiritualitas. 

Mas Budiyono sebagai Penghubung Jejaring

Peran Mas Budiyono dalam pertemuan ini menjadi faktor penting yang menjembatani pertemuan dua komunitas tersebut. Dengan latar belakang sebagai pengusaha dan pengurus PSHT, ia melihat bahwa nilai persaudaraan, kejujuran, dan gotong royong sangat relevan untuk diterjemahkan dalam gerakan ekonomi umat.

Menurutnya, pemberdayaan ekonomi yang kuat lahir dari kolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, ia berharap pertemuan ini dapat menjadi awal sinergi jangka panjang antara Soboratan Preneur dan Santripreneur Indonesia.

Harapan dan Langkah Ke Depan

Kunjungan ini diharapkan menjadi titik awal terbukanya ruang kolaborasi yang lebih luas, khususnya dalam:

  • Penguatan ekonomi santri dan pemuda berbasis komunitas

  • Pertukaran model pendampingan usaha dan pelatihan kewirausahaan

  • Pengembangan jejaring pemasaran produk lokal dan UMKM

Pertemuan tersebut menegaskan bahwa perubahan sosial dan ekonomi dapat dimulai dari silaturahmi, dialog, dan kesamaan niat untuk membangun kemandirian umat secara berkelanjutan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default