Abdul Jalil, Dari Lahan ke Harapan: Menggerakkan Petani Okra dari Pantura hingga Pegunungan Jawa Tengah

CenterSoboratan
1

 

Grobogan - Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, sosok Abdul Jalil muncul sebagai contoh nyata bagaimana ketekunan, kejujuran, dan keberpihakan pada petani mampu melahirkan perubahan yang berarti. Ia bukan sekadar petani, melainkan motor penggerak ratusan petani okra yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Bojonegoro, Rembang, Pati, Kudus, Grobogan, Banjarnegara, hingga Purbalingga.

Abdul Jalil berdomisili di Taruman RT 01/02, Jalan Raya Purwodadi–Kudus KM 14, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan. Dari tempat sederhana inilah, ia membangun jejaring pertanian berbasis kemitraan yang kini dirasakan langsung manfaatnya oleh banyak petani kecil.

Perjalanan Panjang: Jatuh Bangun Sebelum Menemukan Jalan

Perjalanan Abdul Jalil di dunia pertanian tidaklah instan. Jauh sebelum okra menjadi komoditas andalan, ia pernah menekuni budidaya jamur tiram dan produksi pupuk organik. Namun, realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan harapan. Pupuk organik yang dirintis akhirnya harus berhenti, sementara jamur tiram masih bertahan meski tidak menjadi fokus utama.

Titik balik datang pada tahun 2021, saat Abdul Jalil mulai menjalin kerja sama dengan PT Kelola Agro Makmur (PT KAM) dalam budidaya tanaman okra. Keputusan ini bukan tanpa risiko, namun justru menjadi jalan pembuka bagi fase baru perjuangannya bersama para petani.

Didampingi istri dan putrinya, Abdul Jalil terus bertahan melewati masa-masa sulit—dari keraguan petani, keterbatasan modal, hingga tantangan teknis di lapangan. Baginya, kegagalan bukan akhir, melainkan proses belajar.

Pendampingan yang Membumi dan Solutif

Yang membedakan Abdul Jalil dari banyak penggerak pertanian lainnya adalah cara pendekatannya. Ia hadir bukan sebagai “pengarah dari atas”, melainkan sebagai sesama petani yang mau turun ke lahan, mendengar keluhan, dan mencari solusi bersama.

Ketelatenannya dalam mendampingi petani—mulai dari proses tanam, perawatan, hingga pascapanen—membuatnya mudah diterima di berbagai lapisan masyarakat tani. Ia dikenal sabar, terbuka terhadap masukan, dan tidak segan belajar dari pengalaman petani lain.

Tak heran, kini ratusan petani telah bergabung dalam jejaring budidaya okra yang digerakkannya. Okra tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi juga simbol harapan baru bagi petani kecil untuk memiliki pendapatan yang lebih pasti.

Petani sebagai Subjek, Bukan Sekadar Objek

Lebih dari sekadar keberhasilan ekonomi, Abdul Jalil menyimpan harapan besar terhadap masa depan pertanian Indonesia. Ia percaya bahwa petani tidak boleh terus-menerus diposisikan sebagai objek kebijakan, melainkan harus menjadi subjek dan pelaku utama yang ikut menikmati hasil dan menentukan arah kebijakan pertanian.

“Petani harus diberdayakan, bukan hanya diarahkan,” menjadi prinsip yang tercermin dalam setiap langkah pendampingannya. Melalui kemitraan yang adil dan pendampingan berkelanjutan, ia ingin membuktikan bahwa pertanian masih memiliki masa depan yang menjanjikan jika dikelola dengan hati, ilmu, dan kebersamaan.

Inspirasi dari Akar Rumput

Kisah Abdul Jalil adalah potret perjuangan dari akar rumput—tentang keteguhan seorang petani yang memilih bertahan, belajar, dan berbagi jalan dengan sesama. Di tengah tantangan global dan perubahan iklim, langkah-langkah kecil namun konsisten seperti inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi kuat bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani Indonesia.

Dari lahan okra, Abdul Jalil menanam lebih dari sekadar tanaman—ia menanam harapan, keberanian, dan martabat petani.

Posting Komentar

1 Komentar

Posting Komentar
3/related/default