Abnormalitas hari ini perlahan berubah menjadi hal yang dianggap wajar. Kekejian menjadi berita rutin. Kejahatan menjadi konsumsi harian. Skandal moral menjadi hiburan. Genosida di Palestina, kekerasan sistematis yang dilakukan Israel terhadap warga sipil, hingga terbongkarnya berbagai skandal elite global seperti keterkaitan tokoh-tokoh berkuasa dalam Epstein files, tidak lagi memicu guncangan moral kolektif yang kuat. Dunia menyaksikan, tetapi tidak banyak yang bergerak. Mengecam, tetapi tidak melawan. Mengetahui, tetapi memilih diam.
Pertanyaannya bukan lagi “apa yang terjadi?”, tetapi mengapa manusia begitu mudah terbiasa dengan kejahatan?
Normalisasi Kekejaman: Ketika Kejahatan Menjadi Rutinitas
Dalam psikologi sosial, ada konsep yang disebut moral desensitization — proses ketika manusia secara perlahan kehilangan sensitivitas moral akibat paparan kekerasan yang terus-menerus. Tragedi yang dulu mengguncang nurani, hari ini hanya menjadi konten.
Genosida di Palestina, yang menelan ribuan korban sipil, anak-anak, perempuan, dan orang tua, disiarkan secara real time ke seluruh dunia. Namun respons global cenderung datar, prosedural, dan politis. Bahasa kemanusiaan dikalahkan oleh bahasa geopolitik. Nyawa manusia direduksi menjadi angka statistik.
Kekejian berubah menjadi “isu”.
Penderitaan berubah menjadi “konflik”.
Genosida berubah menjadi “ketegangan kawasan”.
Bahasa mengaburkan realitas.
Skandal Moral Elite: Ketika Kekuasaan Menjadi Tameng
Kasus-kasus seperti Epstein files membuka tabir gelap elite global: eksploitasi, kejahatan seksual, jaringan kekuasaan, dan perlindungan struktural. Tokoh-tokoh besar dunia disebut, tetapi hampir tak tersentuh secara hukum dan moral.
Di sini, kejahatan bukan hanya dilakukan individu, tetapi dilindungi sistem. Kekuasaan tidak lagi menjadi alat perlindungan publik, tetapi tameng kejahatan.
Ketika publik melihat bahwa pelaku kuat tidak tersentuh, muncul pesan sosial yang berbahaya:
kejahatan bisa dinegosiasikan,
moral bisa dibeli,
kebenaran bisa dikubur,
dan keadilan bisa diatur.
Matinya Reaksi Moral Kolektif
Fenomena ini melahirkan kelelahan empatik (empathy fatigue). Manusia terlalu sering melihat penderitaan, hingga kehilangan daya respons. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena merasa tidak berdaya.
Akhirnya lahir sikap:
- apatis sosial
- relativisme moral
- sinisme kolektif
- netralitas palsu
- “bukan urusan kita”
Diam menjadi norma.
Netral menjadi pilihan aman.
Peduli dianggap naif.
Krisis Spiritualitas: Ketika Agama Kehilangan Daya Etisnya
Lebih dalam dari krisis sosial, ini adalah krisis spiritual. Bukan karena agama tidak ada, tetapi karena agama kehilangan fungsi etikanya. Ia tinggal simbol, ritual, dan identitas — bukan nilai hidup.
Agama yang seharusnya menjadi benteng moral justru:
- terkooptasi politik
- dijadikan legitimasi kekuasaan
- dipersempit menjadi identitas kelompok
- kehilangan suara profetiknya
Padahal, semua agama besar menolak:
- kezaliman
- penindasan
- eksploitasi
- pembunuhan
- kebejatan moral
- ketidakadilan struktural
Namun hari ini, kejahatan bisa berjalan berdampingan dengan simbol-simbol religius. Moral terpisah dari iman. Ritual terpisah dari nurani.
Apakah Manusia Sudah Tidak Peduli?
Bukan sepenuhnya tidak peduli, tetapi kehilangan keyakinan bahwa kepedulian bermakna. Ketika sistem tidak berubah, hukum tidak adil, dan kejahatan tak tersentuh, manusia menarik diri secara psikologis.
Ini bukan sekadar krisis empati, tetapi krisis harapan.
Kegagalan Global yang Sistemik
Yang terjadi bukan hanya kegagalan individu, tetapi kegagalan sistem global:
- sistem politik yang hipokrit
- sistem hukum yang selektif
- sistem media yang komersial
- sistem ekonomi yang eksploitatif
- sistem global yang tidak berkeadilan
Dalam sistem seperti ini, kejahatan bukan anomali — ia menjadi produk struktural.
Refleksi Etis: Ketika Diam Menjadi Kejahatan Baru
Dalam filsafat moral, ada satu prinsip tegas:
Kejahatan bukan hanya dilakukan oleh pelaku, tetapi juga oleh mereka yang memilih diam.
Diam kolektif menciptakan ruang aman bagi kejahatan.
Netralitas semu menjadi legitimasi kekerasan.
Ketidakpedulian menjadi bentuk baru kezaliman.
Penutup: Menghidupkan Kembali Nurani Peradaban
Tragedi di Palestina, skandal elite global, dan kebusukan moral struktural bukan hanya krisis politik, tetapi krisis peradaban. Krisis nilai. Krisis makna. Krisis iman dalam arti terdalamnya: kepercayaan pada kebenaran, keadilan, dan martabat manusia.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah manusia masih beragama?”
tetapi:
“Apakah manusia masih memiliki nurani?”
Karena agama tanpa nurani hanya simbol.
Iman tanpa keberpihakan hanya identitas.
Spiritualitas tanpa keadilan hanya ritual.
Jika dunia ingin pulih, yang harus dibangkitkan bukan hanya sistem hukum, tetapi kesadaran moral kolektif.
Bukan hanya kebijakan, tetapi keberanian nurani.
Bukan hanya diplomasi, tetapi keberpihakan pada kemanusiaan.
Sebab peradaban tidak runtuh karena kurang teknologi,
tetapi karena mati nurani.
Dan ketika nurani mati,
kejahatan bukan lagi sesuatu yang mengejutkan—
ia hanya menjadi hal biasa.

