Mengabdi Tanpa Sorotan: Abdul Jalil dan Perjalanan Sunyi Membangun Desa

CenterSoboratan
0

 

Grobogan — Nama Abdul Jalil selama ini dikenal luas sebagai sosok sentral dalam pengembangan pertanian okra melalui kemitraan strategis bersama PT KAM. Perannya sebagai koordinator petani telah membuka akses pasar, pendampingan teknis, serta kepastian distribusi hasil panen bagi ratusan petani di berbagai daerah. Banyak petani merasakan langsung dampak nyata dari kehadirannya—baik dalam peningkatan produktivitas, keberlanjutan usaha tani, maupun penguatan ekonomi keluarga.

Namun, di balik peran publik tersebut, terdapat jalan lain yang dijalani Abdul Jalil dengan ketekunan yang sama kuatnya: jalan khidmat sosial-keagamaan di tengah masyarakat desa.

Istiqomah dalam Dakwah: Enam Tahun Menjaga Mimbar Jumat

Selama lebih dari enam tahun, Abdul Jalil secara konsisten mengemban amanah sebagai khatib Jumat di Masjid Desa Taruman, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan. Setiap khutbah yang disampaikannya tidak sekadar ritual formal, tetapi sarat dengan muatan nilai-nilai keilmuan yang ia peroleh dari pendidikan pondok pesantren.

Khutbah-khutbah tersebut berisi penguatan akidah, akhlak sosial, etika bermasyarakat, serta pesan-pesan spiritual yang membumi—menjadikan mimbar Jumat sebagai ruang edukasi moral, bukan sekadar kewajiban ibadah.

Merawat Tradisi Keagamaan Warga

Selain dakwah Jumat, Abdul Jalil juga aktif memandu kegiatan selapanan—pengajian rutin setiap 36 hari sekali—yang dilaksanakan secara bergiliran di rumah-rumah warga. Kegiatan ini berisi doa untuk para ahli kubur dengan rangkaian istighosah, pembacaan Yasin, dan tahlil, yang bukan hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai ruang sosial untuk memperkuat ikatan antarwarga.

Tradisi ini menjadi sarana menjaga spiritualitas kolektif desa, mempererat ukhuwah, dan merawat nilai gotong royong dalam bingkai keagamaan yang menyejukkan.

Hidmat Sosial: Motor Sunyi Karang Taruna Desa

Di ranah sosial, Abdul Jalil juga berkiprah sebagai bagian dari Karang Taruna Desa Taruman. Ia terlibat sebagai tenaga sukarela dalam berbagai kegiatan masyarakat, terutama dalam agenda-agenda hajatan warga. Secara informal, ia menjadi motor penggerak kegiatan kepemudaan—menggerakkan dan menyatukan anak-anak muda dalam kerja sosial berbasis solidaritas.

Peran ini tidak bersifat struktural, namun fungsional. Bukan karena jabatan, tetapi karena kepercayaan sosial yang tumbuh dari keteladanan sikap dan konsistensi pengabdian.

Panggilan Jiwa yang Lahir dari Proses Kesadaran

Semua jalan khidmat tersebut tidak lahir secara instan. Abdul Jalil mengakui bahwa titik balik hidupnya terjadi pada tahun 2017, saat ia bertemu dengan seorang mentor kehidupan yang membukakan cara pandang baru tentang makna hidup. Dari pertemuan itu, lahirlah kesadaran bahwa hidup bukan sekadar tentang keberhasilan pribadi, tetapi tentang kebermanfaatan sosial.

Sejak saat itu, pengabdian tidak lagi diposisikan sebagai aktivitas tambahan, tetapi sebagai identitas hidup—jalan panjang yang harus dijalani dengan konsistensi, ketulusan, dan keberanian untuk terus hadir bagi orang lain.

Figur yang Menyatukan Nilai Ekonomi dan Spiritual

Abdul Jalil hari ini bukan hanya dikenal sebagai penggerak pertanian, tetapi sebagai figur yang menyatukan nilai ekonomi, sosial, dan spiritual dalam satu jalan hidup. Ia membuktikan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya dengan produktivitas ekonomi, tetapi harus dibarengi dengan penguatan moral, spiritualitas, dan solidaritas sosial.

Dari sawah ke mimbar masjid, dari lahan pertanian ke ruang pengajian warga, dari posko tani ke kegiatan sosial pemuda—semua dijalani dalam satu napas: hidmat untuk sesama.

Pesan Nilai yang Menginspirasi

Kisah Abdul Jalil menghadirkan pesan kuat bagi masyarakat:
bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu hadir dalam struktur formal, bahwa pengabdian tidak selalu terlihat di panggung besar,dan bahwa perubahan sosial sering lahir dari langkah-langkah sunyi yang konsisten.

Ia menjadi bukti bahwa seseorang bisa menjadi penggerak ekonomi sekaligus penjaga nilai spiritual, motor sosial sekaligus pembangun kesadaran moral—tanpa kehilangan kesederhanaan dan ketulusan.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default