Banjarnegara — Jum’at, 6 Februari 2026, menjadi momentum penting dalam perjalanan Soboratan Preneur sebagai komunitas sosial-ekonomi dan kepemudaan. Perwakilan Soboratan Preneur, Pak Eko, hadir dalam acara Akhirus Sanah TPQ Al Hidayah yang digelar di Rumah Gus Dayat, Situwangi, Kecamatan Rakit, Banjarnegara. Kehadiran ini bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, tetapi menjadi bagian dari strategi jangka panjang Soboratan Preneur dalam membangun jejaring ukhuwah dan kolaborasi lintas pesantren.
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh pengasuh pondok pesantren dan ulama setempat, di antaranya Gus Husen, Gus Idin, Gus Gugun, serta Kyai Mudrik, Ketua P4SK Banjarnegara, bersama para pengurus TPQ, tokoh masyarakat, dan santri. Suasana berlangsung khidmat, penuh kehangatan, dan sarat dialog kebersamaan.
Kolaborasi sebagai Jalan Peradaban
Dalam konteks Soboratan Preneur, silaturahmi ini bukan sekadar relasi sosial, melainkan agenda peradaban. Soboratan melihat pesantren bukan hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi sebagai pilar pembentukan karakter, moral, dan daya tahan sosial masyarakat.
Pak Eko menegaskan bahwa agenda ini merupakan bagian dari program berkelanjutan Soboratan Preneur untuk membangun ekosistem kolaboratif antara komunitas pemuda, pelaku ekonomi rakyat, dan lembaga keagamaan. Kolaborasi yang dirancang tidak berhenti pada simbolik ukhuwah, tetapi diarahkan pada kerja nyata dan program konkret.
Beberapa ruang kerja sama yang mulai dirumuskan meliputi:
- Kolaborasi PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) secara bersama sebagai ruang dakwah kultural dan penguatan nilai keumatan.
- Pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara pesantren dan komunitas Soboratan.
- Pelatihan keterampilan untuk santri, seperti:
- Internet marketing dan literasi digital
- Kewirausahaan dasar
- Pelatihan bela diri/silat
- Penguatan soft skill kepemudaan
- Program Character Building Remaja, sebagai respon atas krisis moral, identitas, dan mental generasi muda di era digital.
Membangun Santri yang Tangguh di Era Perubahan
Soboratan Preneur memandang bahwa tantangan generasi muda hari ini bukan hanya soal akidah dan akhlak, tetapi juga daya adaptasi sosial, mental, dan ekonomi. Santri tidak cukup hanya kuat secara spiritual, tetapi juga perlu dibekali:
- kemampuan berpikir kritis,
- literasi teknologi,
- jiwa kepemimpinan,
- keterampilan hidup (life skill),
- serta mental tangguh menghadapi perubahan zaman.
Kolaborasi dengan pesantren menjadi jalan strategis untuk membentuk generasi yang shalih secara spiritual dan kuat secara sosial-ekonomi—santri yang bukan hanya alim, tetapi juga mandiri, berdaya, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sambutan Hangat Para Pengasuh Pesantren
Para pengasuh pondok menyambut agenda ini dengan antusias dan optimisme tinggi. Mereka memandang langkah Soboratan Preneur sebagai inisiatif visioner yang tidak banyak dilakukan oleh komunitas kepemudaan: membangun relasi dengan pesantren bukan untuk kepentingan simbolik, tetapi untuk agenda pemberdayaan jangka panjang.
Para kyai dan gus yang hadir berharap silaturahmi ini menjadi langkah awal yang kokoh menuju kolaborasi berkelanjutan—bukan sekadar pertemuan satu kali, tetapi menjadi gerakan bersama dalam membina generasi muda Banjarnegara.
Soboratan Preneur: Dari Komunitas ke Gerakan Sosial
Bagi Soboratan Preneur, program ini menegaskan identitas mereka bukan hanya sebagai komunitas ekonomi kreatif atau kewirausahaan, tetapi sebagai gerakan sosial berbasis nilai. Program kolaborasi pesantren ini menjadi bagian dari konsen besar Soboratan:
- membangun generasi muda yang berkarakter,
- memperkuat jejaring sosial-keumatan,
- dan menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.
Kolaborasi ini juga menandai transformasi Soboratan Preneur dari sekadar komunitas menjadi platform perjumpaan antara dunia pesantren, pemuda, ekonomi rakyat, dan gerakan sosial.
Penutup
Pertemuan di Akhirus Sanah TPQ Al Hidayah bukan sekadar agenda silaturahmi, tetapi titik awal sebuah poros peradaban kecil di Banjarnegara: perjumpaan antara nilai agama, energi pemuda, dan semangat pemberdayaan.
Di tengah tantangan zaman yang kompleks—krisis karakter, disrupsi teknologi, dan ketimpangan sosial—kolaborasi seperti ini menjadi harapan baru: bahwa perubahan besar selalu lahir dari langkah kecil yang konsisten, dari niat baik yang dijalankan bersama, dan dari ukhuwah yang diwujudkan dalam kerja nyata.
Ketika pesantren, pemuda, dan komunitas sosial-ekonomi berjalan bersama, maka yang dibangun bukan hanya program—tetapi masa depan.
