Banjarnegara - Tidak semua orang memulai hidup dari titik yang sama. Ada yang lahir dengan kemudahan, ada pula yang harus berdamai dengan keterbatasan sejak awal. Mas Fathul adalah salah satu dari mereka yang memulai segalanya dari kondisi yang serba pas-pasan.
Di Perja, Purwareja Klampok, Mas Fathul menjalani hari-hari sebagai kepala keluarga dengan beban yang tidak ringan. Saat itu ia telah beristri dan memiliki satu anak, sementara pekerjaan tetap belum juga ia dapatkan. Setiap hari bukan tentang kenyamanan, melainkan tentang bertahan hidup. Bahkan, uang Rp100.000 harus cukup untuk satu minggu penuh. Tidak jarang, rasa cemas datang saat memikirkan hari esok.
Namun di tengah keterbatasan itu, ia tidak pernah sendirian. Sang istri adalah sosok luar biasa yang ikut berjuang. Demi menambah penghasilan, ia berjualan es ke tetangga sekitar. Bukan pekerjaan besar, tapi penuh makna. Dari situlah Mas Fathul belajar satu hal penting: perjuangan tidak selalu soal besar kecilnya usaha, tetapi tentang kesediaan untuk bergerak.
Hidup menjatuhkan mereka berkali-kali, namun harapan selalu memaksa Mas Fathul untuk bangkit. Hingga suatu hari, ia mulai mengenal dunia digital dan pemasaran online. Awalnya hanya ikut membantu jualan alat di Pak Edi, tapi dari pengalaman sederhana itulah pikirannya terbuka. Ia menyadari bahwa dunia sedang berubah, dan perubahan itu membawa peluang bagi siapa saja yang mau belajar.
Kesempatan datang dari arah yang tidak disangka. Kakaknya, Hendrik, adalah pemasok tempung bumbu biang. Dengan modal kepercayaan dan keberanian, Mas Fathul mencoba menjual produk tersebut. Kondisi hidup masih sulit, hasil belum seberapa, tapi ia menyimpan satu keyakinan kuat: hidup tidak akan berubah jika kita terus berada di zona yang sama.
Hari demi hari, Mas Fathul belajar. Ia jatuh, bangkit, salah strategi, lalu memperbaiki. Hingga akhirnya ia menemukan pola pemasaran online yang efektif—cara sederhana namun tepat sasaran, yang mampu mendongkrak penjualan secara perlahan tapi pasti.
Saat hasil mulai terlihat, Mas Fathul tidak memilih menikmati sendirian. Ia justru membuka pintu bagi anak-anak muda di sekitarnya, termasuk adiknya, Irfan, untuk ikut terlibat. Ia percaya bahwa rezeki akan tumbuh lebih besar ketika dibagi. Dari satu orang, menjadi dua, lalu puluhan. Semangat kolektif inilah yang kemudian melahirkan sebuah kebutuhan akan identitas.
Bukan sekadar nama, tapi simbol perjuangan. Maka lahirlah Ruang Dapoer—sebuah wadah, ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang harapan bagi banyak orang.
Perjalanan Ruang Dapoer tentu tidak instan. Omzet awal hanya sekitar 1 kwintal. Tidak ada jalan pintas, tidak ada keajaiban semalam. Tapi dengan konsistensi, disiplin, dan keberanian beradaptasi, perlahan hasilnya terasa. Kini, dengan lebih dari 50 tenaga pemasar, Ruang Dapoer mampu mencatat omzet hingga 4 ton per bulan.
Lebih dari sekadar angka, Ruang Dapoer adalah bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Dari dapur sederhana, dari hidup yang penuh kekurangan, lahir sebuah usaha yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Kisah Mas Fathul mengajarkan kita satu pesan penting:
Kesuksesan bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling tahan menghadapi proses.
Selama masih ada kemauan untuk belajar, berani berubah, dan tidak berhenti berharap, selalu ada jalan untuk keluar dari kesulitan.
Dan Ruang Dapoer adalah saksi bahwa harapan yang dijaga dengan kerja keras, suatu hari akan menemukan jalannya sendiri. 🌱


.jpeg)

