Sumatera — Kalimat itu kembali terdengar, berulang-ulang, nyaris tanpa jeda: “Situasi terkendali, stok aman, semua baik-baik saja.” Narasi yang keluar dari mulut para pejabat, disampaikan dengan nada tenang, seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun di balik layar televisi dan podium konferensi pers, realitas di Sumatera justru berbicara sebaliknya.
Media sosial dipenuhi video antrean panjang BBM, jeritan warga yang mengaku sudah berhari-hari tak mendapat pasokan bahan bakar, hingga cerita pilu tentang desa yang bukan sekadar terisolasi—melainkan hilang. Jalan terputus, jembatan lenyap, dan akses logistik lumpuh total. Dalam kondisi seperti ini, kata “aman” terasa begitu jauh dari kenyataan.
Data resmi mencatat lebih dari 700 korban jiwa. Angka itu pun diyakini belum final. Sebab ada satu pertanyaan yang jarang disuarakan: bagaimana jika satu keluarga hilang seluruhnya? Siapa yang akan melapor? Ketika tak ada saksi yang tersisa, angka kematian pun bisa tak pernah tercatat. Tragedi kemanusiaan ini bukan sekadar soal statistik, melainkan tentang nyawa manusia yang hilang tanpa suara.
Ironisnya, di tengah krisis logistik dan duka mendalam, narasi yang terus diulang justru seolah ingin menenangkan publik: “Jangan panik, semua terkendali.” Jika alasannya untuk menjaga mental masyarakat, banyak yang justru menilai ini keliru. Sebab kejujuran adalah fondasi ketenangan, bukan penyangkalan.
Di balik narasi “baik-baik saja”, muncul kecurigaan akan hal yang lebih besar: kepentingan ekonomi. Sawit dan tambang kembali disebut-sebut sebagai bayang-bayang yang enggan disingkirkan dari panggung. Kerusakan lingkungan yang berlangsung puluhan tahun, pembukaan hutan tanpa kendali, dan eksploitasi alam besar-besaran kini menagih harga mahal. Bencana bukan lagi sekadar fenomena alam, melainkan akumulasi keputusan manusia.
Namun dari reruntuhan dan duka itu, muncul pula suara lain—suara solidaritas. Relawan bergerak tanpa sorotan kamera, warga saling membantu dengan apa yang mereka punya, dan donasi mengalir dari rakyat untuk rakyat. Di saat kepercayaan pada narasi resmi goyah, kemanusiaan justru menemukan momentumnya.
Tragedi Sumatera seharusnya menjadi cermin bersama. Bahwa bencana tidak boleh ditutup dengan retorika, dan penderitaan tidak bisa disamarkan dengan kalimat diplomatis. Yang dibutuhkan bukan sekadar pernyataan “kami memantau”, melainkan tindakan nyata, transparansi, dan keberanian mengakui kesalahan.
Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang pandai menenangkan lewat kata-kata, tetapi bangsa yang berani jujur, melindungi warganya, dan menempatkan nyawa manusia di atas segalanya. Sumatera sedang berduka, dan sudah saatnya kita semua—tanpa kecuali—berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan.
