Halal Bihalal Lintas Komunitas di Wonosobo, Gusdurian dan Saba Maiyah Rawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan

CenterSoboratan
0

 


WONOSOBO — Dalam suasana hangat Idul Fitri, berbagai komunitas di Wonosobo menggelar doa bersama yang dilanjutkan dengan diskusi dan halal bihalal, Rabu (1/3/2026). Kegiatan ini mempertemukan Gusdurian Wonosobo dan Saba Maiyah Wonosobo dalam satu ruang dialog yang hangat dan penuh makna.

 

Acara turut dihadiri sejumlah kiai dan gus dari berbagai pondok pesantren, salah satunya Gus Husen dari Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Purwasaba. Kehadiran para tokoh agama ini semakin menguatkan nuansa kebersamaan dalam kegiatan yang sarat nilai persaudaraan tersebut.

Lebih dari sekadar ajang silaturahmi, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas komunitas untuk merawat ukhuwah dan membangun saling pengertian di tengah keberagaman yang kerap disalahpahami. Suasana cair dan terbuka tampak mewarnai jalannya diskusi, di mana setiap peserta bebas menyampaikan pandangan dengan penuh rasa hormat.

 

Diskusi dibuka oleh Ketua Gusdurian Wonosobo, Lutfan Muntaqo, yang menekankan pentingnya merawat persaudaraan dengan landasan pemahaman yang dewasa terhadap perbedaan.

 

“Merawat persaudaraan harus berpijak pada satu prinsip, yaitu memahami bahwa perbedaan adalah keniscayaan,” ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi sumber pertentangan, melainkan harus dikelola dengan bijak agar menjadi kekuatan dalam kehidupan bersama. Sebagai kelompok mayoritas, umat Islam juga diingatkan memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga kerukunan beragama di Indonesia.

 

Percakapan kemudian mengalir pada pengalaman komunitas Maiyah. Pegiat Maiyah, Yuli Dwi Ardi, menjelaskan bagaimana Emha Ainun Nadjib membangun Maiyah dengan semangat keterbukaan melalui konsep sinau bareng.

 

“Kita diajarkan konsep sinau bareng, belajar apa pun dengan siapa pun. Ini yang membuat Maiyah bersikap toleran,” ungkapnya.

 

Menurutnya, dari cara pandang tersebut lahir sikap yang tidak mudah fanatik dan tidak tergesa-gesa menghakimi orang lain hanya karena perbedaan latar belakang maupun keyakinan.

 

Pandangan serupa juga disampaikan Slamet Priyanto yang menilai bahwa perbedaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial.

 

“Kita perlu saling mengenal agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dari situlah akan tumbuh saling memahami dan saling mencintai,” tuturnya.

 

Ia menambahkan, kegiatan seperti ini memiliki peran penting dalam membangun ruang dialog yang sehat sekaligus mengurai prasangka yang kerap muncul akibat kurangnya komunikasi antar kelompok.

 

Pertemuan yang berlangsung hangat ini menjadi pengingat bahwa ukhuwah tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling memahami. Di tengah perbedaan yang ada, ruang dialog yang terbuka dan penuh rasa hormat menjadi kunci utama dalam menjaga kebersamaan dan persatuan.

Tags
  • Lebih baru

    Halal Bihalal Lintas Komunitas di Wonosobo, Gusdurian dan Saba Maiyah Rawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default