Purbalingga — Sebuah langkah sunyi namun penuh makna tengah dilakukan oleh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Purbalingga. Dengan semangat persaudaraan dan visi jangka panjang, PSHT Purbalingga kini telah memiliki sebidang tanah seluas lebih dari 125 ubin yang terletak di Dusun 1, RT 02 RW 01, Kelurahan Bumisari, Kecamatan Bojongsari. Tanah ini diproyeksikan menjadi padepokan PSHT, sebuah pusat pembinaan, pendidikan, dan pengabdian yang akan menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Meski saat ini masih berupa tanah kosong, harapan besar telah ditanam di atasnya. Padepokan yang direncanakan kelak tidak sekadar menjadi tempat latihan pencak silat, tetapi juga akan menjadi ruang pembentukan karakter, tempat menanamkan nilai budi pekerti luhur, persaudaraan, disiplin, dan jiwa kebangsaan. Di sanalah kelak para warga dan generasi muda PSHT ditempa, bukan hanya agar kuat secara fisik, tetapi juga matang secara mental dan moral.
Padepokan PSHT Purbalingga ini nantinya akan dikelola secara resmi oleh Yayasan Terate Pemancar Cita, sebuah yayasan yang telah memiliki akta notaris resmi oleh Charenna Dewirani, S.H., M.Kn. Legalitas ini menjadi fondasi penting agar pengelolaan padepokan berjalan transparan, profesional, dan berkelanjutan, sejalan dengan nilai-nilai organisasi.
Menariknya, sebelum bangunan berdiri, tanah tersebut tidak dibiarkan pasif. PSHT Cabang Purbalingga memilih langkah produktif dengan memulai pengembangan usaha budidaya merica India. Usaha ini menjadi langkah awal untuk menciptakan sumber pemasukan mandiri. Ke depan, tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan berbagai usaha lain yang sesuai dengan potensi lahan dan kebutuhan organisasi.
Tujuan dari pengembangan usaha ini sederhana namun visioner: membangun kemandirian ekonomi organisasi. Dana yang dihasilkan akan menjadi kas persiapan untuk membangun sarana dan prasarana padepokan, mulai dari tempat latihan, ruang pertemuan, hingga fasilitas pendukung lainnya. Dari tanah yang digarap dengan tangan sendiri, PSHT Purbalingga ingin membuktikan bahwa kemandirian dan gotong royong adalah kunci menuju cita-cita besar.
Langkah ini menjadi pesan kuat bahwa membangun organisasi tidak selalu harus dimulai dengan bangunan megah. Kadang, ia bermula dari niat yang lurus, kerja yang konsisten, dan keyakinan bahwa setiap proses kecil hari ini adalah pondasi masa depan. Apa yang hari ini masih berupa tanah, suatu saat diharapkan akan berdiri menjadi pusat persaudaraan yang memberi manfaat, tidak hanya bagi warga PSHT, tetapi juga bagi masyarakat sekitar.
PSHT Cabang Purbalingga menanam bukan hanya merica di tanah Bumisari, tetapi juga harapan, cita-cita, dan masa depan persaudaraan. Sebuah bukti bahwa ajaran Setia Hati bukan sekadar diucapkan, melainkan diwujudkan melalui kerja nyata, kesabaran, dan visi jangka panjang.


