Di usia 63 tahun, Pak Sodik membuktikan bahwa pengabdian tidak mengenal batas usia dan tidak pernah memiliki kata pensiun. Warga Bawang, Banjarnegara ini tetap aktif mengisi ruang-ruang sosial kemasyarakatan melalui berbagai peran yang dijalaninya secara konsisten dan penuh tanggung jawab, menjadikannya sosok yang bukan hanya dihormati karena usia, tetapi karena keteladanan hidup yang ia bangun melalui tindakan nyata.
Sebagai Ketua RT, Pak Sodik tidak sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi hadir sebagai penghubung sosial yang menguatkan relasi antarwarga dan membangun jembatan komunikasi antara masyarakat dengan berbagai kepentingan lingkungan. Keterbukaan terhadap aspirasi, serta responsif terhadap persoalan sosial yang muncul di lingkungan tempat tinggalnya. Perannya menjadikan ruang RT bukan sekadar wilayah struktural, melainkan ruang kebersamaan yang hidup, guyub, dan saling menguatkan.
Di sektor ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, Pak Sodik juga mengabdikan diri sebagai Ketua Pokdakan (Kelompok Pembudidaya Ikan), dengan fokus pada pengembangan budidaya ikan nila. Melalui peran ini, ia tidak hanya mendorong peningkatan produktivitas perikanan, tetapi juga membangun kesadaran kemandirian ekonomi warga, membuka peluang usaha berbasis potensi lokal, serta menumbuhkan semangat gotong royong dalam pengelolaan sumber daya desa. Budidaya perikanan yang dikembangkan menjadi ruang kolaborasi sosial sekaligus sarana edukasi ekonomi masyarakat.
Dalam kehidupan keagamaan, Pak Sodik dipercaya sebagai Takmir Masjid bidang pembangunan, di mana ia terlibat langsung dalam penguatan infrastruktur ibadah sekaligus penguatan fungsi sosial masjid sebagai pusat pembinaan umat. Perannya tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan nilai kebersamaan, kepedulian, dan spiritualitas masyarakat.
Komitmen pengabdiannya semakin luas ketika ia bergabung dalam komunitas JULEHA Muhammadiyah (Juru Sembelih Halal), sebuah gerakan sosial-keagamaan yang berfokus pada penjagaan standar kehalalan dan pemenuhan syariat dalam praktik penyembelihan hewan. Di Banjarnegara, JULEHA telah menghimpun sekitar 500 anggota, dan keterlibatan Pak Sodik di dalamnya menunjukkan konsistensinya dalam menjaga nilai-nilai keagamaan yang berdampak langsung pada kehidupan umat.
Di bidang pembinaan generasi muda, Pak Sodik juga aktif sebagai warga PSHT. Ia membuka rayon kepelatihan silat PSHT di rumahnya sendiri dan dipercaya menjadi Ketua Ranting di wilayah tersebut. Rumahnya tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi berkembang menjadi ruang pembinaan karakter, pendidikan mental, dan pembentukan nilai-nilai kedisiplinan serta akhlak generasi muda. Melalui dunia persilatan, ia turut membangun manusia-manusia muda yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Seluruh peran yang dijalani Pak Sodik menunjukkan bahwa pengabdian bukanlah soal usia, jabatan, atau popularitas, melainkan soal pilihan hidup dan kesadaran moral. Di usia yang bagi sebagian orang menjadi masa beristirahat, ia justru memperluas ladang pengabdian, memperbanyak ruang kontribusi, dan memperdalam makna kebermanfaatan hidup. Ia menjadi bukti nyata bahwa menua adalah proses alamiah, tetapi tetap berguna bagi masyarakat adalah keputusan sadar yang lahir dari nilai, iman, dan kepedulian sosial, menjadikan hidup bukan sekadar perjalanan waktu, melainkan perjalanan makna.
Dan dari beliau kita belajar satu hal sederhana tapi dalam:
Tua memang sebuah jalan hidup,
tapi menjadi pengabdi di masyarakat adalah pilihan.
Pilihan yang lahir dari kesadaran,
dari iman,
dari cinta pada sesama,
dan dari rasa tanggung jawab sebagai manusia.
Pak Sodik membuktikan,
bahwa selama masih bisa berjalan,
selama masih bisa berpikir,
selama masih bisa berbuat,
pengabdian tidak pernah pensiun.
Ia adalah contoh bahwa hidup yang baik
bukan tentang berapa lama kita hidup,
tetapi seberapa banyak manfaat yang kita tinggalkan.
Dan di usia 63 tahun,
Pak Sodik memilih untuk tetap menjadi
manusia yang bermakna.




