Khataman Al-Qur’an di Masjid Al-Hikmah Pesawahan: Merawat Tradisi, Menumbuhkan Cinta Al-Qur’an

CenterSoboratan
0

 

Suasana Masjid Al-Hikmah Pesawahan pada malam Jum’at Manis, Kamis, 12 Februari 2026, terasa berbeda. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an mengalir khusyuk, menyatu dengan keheningan malam dan kebersamaan warga serta anak-anak muda yang hadir dalam kegiatan Khataman Al-Qur’an. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari rutinitas spiritual yang terus dijaga sebagai ikhtiar kolektif untuk menumbuhkan cinta kepada Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Khataman ini menjadi ruang perjumpaan lintas generasi—orang tua dan pemuda—yang duduk dalam satu majelis, membaca, mendengarkan, dan menghayati ayat-ayat Allah. Di tengah derasnya arus kehidupan modern, kegiatan ini hadir sebagai oase ruhani, mengingatkan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah formal, tetapi pusat pembinaan jiwa, akhlak, dan kebersamaan sosial.

Acara tersebut juga disertai dengan selamatan tumpeng, yang disiapkan oleh warga sebagai simbol rasa syukur. Dalam tradisi Nusantara, tumpeng memiliki makna filosofis yang dalam. Bentuknya yang mengerucut melambangkan hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, sementara lauk-pauk di sekelilingnya menggambarkan kehidupan sosial manusia yang saling terhubung. Selamatan tumpeng bukan sekadar ritual budaya, tetapi ekspresi spiritual: doa, rasa syukur, dan harapan agar kehidupan masyarakat senantiasa diberkahi, dijauhkan dari musibah, serta dipenuhi ketenteraman.

Sebagai kegiatan rutin, Khataman Al-Qur’an di Masjid Al-Hikmah telah menjadi bagian dari budaya religius masyarakat Pesawahan. Tradisi ini bukan hanya menjaga interaksi dengan Al-Qur’an secara tekstual, tetapi juga membangun kedekatan emosional dan spiritual umat dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya—kejujuran, kasih sayang, keadilan, dan kepedulian sosial.

Ustadz Ridho, selaku penggagas kegiatan, menaruh harapan besar pada khataman ini. Baginya, Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca, tetapi harus dihidupkan dalam perilaku dan karakter. Ia berharap masjid menjadi ruang yang ramah bagi anak muda, tempat mereka merasa diterima, dibina, dan diberdayakan, bukan sekadar diundang ketika acara besar saja.

“Kalau Al-Qur’an dicintai, maka akhlak akan tumbuh. Kalau akhlak tumbuh, masyarakat akan kuat. Dan kalau masyarakat kuat, maka masa depan desa ini akan terang,” demikian semangat yang terus ia gaungkan dalam setiap kegiatan.

Khataman Al-Qur’an ini bukan hanya agenda rutin, tetapi investasi jangka panjang dalam pembangunan peradaban kecil bernama kampung. Dari masjid, dari majelis sederhana, dari lantunan ayat-ayat suci yang dibaca bersama, tumbuh harapan besar: lahirnya generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan peduli terhadap sesama.

Di tengah dunia yang kian bising oleh hiruk-pikuk informasi dan konflik kepentingan, Masjid Al-Hikmah Pesawahan menghadirkan pesan sederhana namun kuat: bahwa ketenangan, kekuatan moral, dan masa depan yang lebih baik selalu bisa dimulai dari satu hal—mencintai Al-Qur’an dan membumikan nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default