Purbalingga - Di tengah hamparan desa yang tenang di Kadus 3, Dusun Majapahit, Desa Karangturi, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, tumbuh sebuah semangat kolektif dari para perempuan desa. Mereka tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) “Gayatri”, sebuah wadah belajar, berdaya, dan saling menguatkan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis pertanian.
KWT Gayatri resmi dibentuk dan disahkan dengan penuh harapan di kediaman ketua RT 15/07 Bapak Edi Pranoto oleh Kepala Desa Karangturi almarhum Bapak Wasis Hartoyo, bersama Kadus 3 Bapak Eko Susanto dan Ketua BPD Bapak Muhroji. Proses pembentukan kelompok ini juga mendapat dukungan nyata dari jajaran penyuluh pertanian lapangan (PPL) Kecamatan Mrebet, yakni Ibu Neni Mujiastuti, Rialisasi Handayani, Esti B.U, dan Budiyati. Sebanyak 12 orang ibu-ibu dengan latar belakang sederhana namun tekad yang kuat, menyatakan siap berjalan bersama dalam kelompok ini.
Pada awal perjalanannya, KWT Gayatri mencoba mengelola lahan bengkok di wilayah Majapahit dengan menanam berbagai komoditas seperti cabai, tomat, terong, dan tanaman sayur lainnya. Namun keterbatasan pengetahuan teknis, minimnya akses informasi, serta pengalaman yang masih terbatas membuat upaya tersebut belum membuahkan hasil optimal, hingga akhirnya kegiatan tersebut terhenti.
Meski demikian, semangat para ibu tidak ikut padam. Mereka bangkit dan berani mencoba hal baru. KWT Gayatri kemudian beralih ke budidaya tanaman okra di atas tanah desa Karangturi seluas sekitar 500 ubin, melalui kerja sama dengan PT KAM Temanggung. Selama kurang lebih lima bulan, para anggota mendapatkan pendampingan intensif dari koordinator PT KAM, sekaligus kontrol dan bimbingan berkelanjutan dari PPL Kecamatan Mrebet.
Hasil yang diperoleh memang belum maksimal. Namun bagi KWT Gayatri, proses ini adalah sekolah kehidupan—tempat belajar dari kegagalan, memahami tantangan lapangan, dan memperbaiki langkah ke depan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi ibu-ibu Grumbul Majapahit untuk terus meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan keterampilan pertanian mereka.
“Kami sadar, belajar bertani itu tidak instan. Tapi kami tidak ingin berhenti hanya karena belum berhasil,” ungkap salah satu pembina KWT dengan penuh optimisme.
Ke depan, KWT Gayatri menyimpan harapan besar akan hadirnya solusi pertanian yang lebih menjanjikan, baik dari sisi hasil maupun kemudahan pemeliharaan. Beberapa alternatif mulai dilirik, seperti budidaya tanaman hidroponik serta tanaman hias bernilai ekonomi seperti kaktus dan aglonema, yang dinilai lebih adaptif dan memiliki peluang pasar yang luas.
Kisah KWT Gayatri adalah potret ketangguhan perempuan desa—tentang keberanian mencoba, keikhlasan belajar, dan tekad untuk bangkit bersama. Dari tanah desa Karangturi, para ibu ini menanam lebih dari sekadar tanaman; mereka menanam harapan, solidaritas, dan masa depan yang lebih berdaya.
.jpeg)
.jpeg)

