Dari Sawah ke Sistem: Ikhtiar Jon Ali dan Farid Gaban Mengembalikan Martabat Petani

CenterSoboratan
0

 

Wonosobo – Di tengah ironi negeri agraris yang bergantung pada pangan namun kerap meminggirkan petaninya, sebuah ikhtiar sunyi lahir dari Jawa Tengah. Jon Ali memutuskan kembali ke kampung halamannya di Wonosobo, bersama jurnalis senior dan pegiat lingkungan Farid Gaban, untuk satu tujuan mendasar: memahami persoalan riil petani dan mencari jalan keluar yang adil melalui sistem bersama.

Langkah ini bukan sekadar nostalgia pulang kampung, melainkan sebuah riset lapangan yang serius. Mereka menyusuri rantai distribusi beras—dari tempat penggilingan padi, toko kelontong, ritel modern, hingga ke konsumen akhir. Dari sana, muncul satu pertanyaan fundamental yang selama ini jarang dijawab secara jujur:

Mengapa harga beras begitu murah di tangan petani, tetapi mahal di meja makan konsumen?

Rantai Panjang yang Memutus Harapan

Hasil riset menunjukkan bahwa persoalan utama pertanian bukan semata soal produktivitas, melainkan struktur distribusi yang timpang. Petani berada di posisi paling lemah dalam rantai nilai: menjual gabah murah saat panen, tak punya daya tawar, dan bergantung pada tengkulak serta sistem pasar yang tidak mereka kuasai.

Di sisi lain, konsumen dihadapkan pada harga beras yang terus naik. Selisih harga ini bukan dinikmati petani, melainkan terserap oleh panjangnya mata rantai distribusi dan permainan pasar.

Situasi ini diperparah oleh fenomena yang lebih mengkhawatirkan: hilangnya petani muda dari sawah-sawah Indonesia.


Petani Menua, Sawah Kehilangan Pewaris

Data dan prediksi Bappenas menyebutkan bahwa dalam 40 tahun ke depan, Indonesia berpotensi kehilangan profesi petani. Generasi muda enggan turun ke sawah karena melihat pertanian identik dengan kemiskinan, ketidakpastian, dan minimnya penghargaan.

Jon Ali dan Farid Gaban menemukan bahwa persoalan ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal martabat dan keberlanjutan. Tanpa sistem yang adil, pertanian akan terus ditinggalkan, dan ketahanan pangan hanya menjadi jargon kebijakan.

 

Wadas: Potret Luka Pertanian Indonesia

Masalah pertanian di Indonesia semakin kompleks ketika berhadapan dengan konflik agraria. Desa Wadas, Purworejo, menjadi contoh nyata. Lahan pertanian yang subur terancam oleh izin tambang batu andesit untuk proyek strategis nasional.

Marsono, petani Desa Wadas, dengan getir menyampaikan kritiknya:

“Bukannya melaksanakan Pancasila, pemerintah justru ngremuk Pancasila.”

Petani tidak hanya kehilangan lahan, tetapi juga menghadapi intimidasi. Kasus Wadas memperlihatkan bahwa kemunduran pertanian bukan semata akibat pasar, tetapi juga kebijakan yang abai pada keadilan sosial.

Tekanan Berlapis yang Memiskinkan Petani

Menyusutnya lahan hanyalah satu dari sekian tekanan yang dihadapi petani, di antaranya:

  • Ketimpangan rantai distribusi hasil panen

  • Ketergantungan pada tengkulak dan input mahal

  • Minimnya akses modal dan teknologi

  • Lemahnya perlindungan hukum dan kebijakan

  • Stigma bahwa bertani bukan masa depan

Semua tekanan ini mendorong petani ke posisi paling rentan dalam sistem pangan nasional.

Koperasi Beras: Dari Objek Menjadi Subjek

Dari kegelisahan itulah lahir sebuah gagasan yang berpijak pada nilai gotong royong: koperasi beras. Bukan koperasi semu, melainkan sistem kolektif yang menempatkan petani sebagai subjek utama, bukan objek belas kasihan.

Melalui koperasi:

  • Petani memiliki kendali atas pascapanen dan distribusi

  • Harga lebih adil bagi petani dan konsumen

  • Transparansi rantai nilai dapat diwujudkan

  • Generasi muda diajak masuk dalam sistem yang sehat

Koperasi menjadi ruang belajar bersama, tempat petani berdaulat atas hasil kerjanya sendiri.

Mengembalikan Arah Pertanian

Apa yang dilakukan Jon Ali dan Farid Gaban bukan sekadar eksperimen ekonomi, melainkan upaya mengembalikan arah pertanian Indonesia—dari sistem yang eksploitatif menuju sistem yang berkeadilan.

Di tengah krisis pangan global, perubahan iklim, dan konflik agraria, langkah ini menjadi pengingat bahwa solusi tidak selalu datang dari atas. Kadang, ia lahir dari sawah, dari dialog dengan petani, dan dari keberanian membangun sistem bersama.

Inspirasi dari Desa

Pertanian bukan sekadar soal menanam padi, tetapi soal menjaga masa depan bangsa. Ketika petani dimuliakan, pangan akan berdaulat. Dan ketika sistem dibangun secara adil, sawah tak lagi menjadi simbol kemiskinan, melainkan sumber harapan.

Langkah Jon Ali dan Farid Gaban menunjukkan bahwa perubahan mungkin terasa lambat, tetapi selalu dimulai dari keberanian untuk berpihak.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default