Di tengah euforia investasi digital, trading saham, dan kripto yang kian masif di kalangan anak muda, muncul sebuah kegelisahan mendalam tentang ke mana sebenarnya harapan satu generasi sedang diarahkan. Bukan soal anti-teknologi atau melarang orang mencari kekayaan, melainkan soal dampak jangka panjang terhadap ekonomi riil dan struktur sosial Indonesia.
Saat ini, ratusan juta masyarakat Indonesia—pedagang asongan, UMKM, warung makan, kafe, hingga pelaku usaha kecil—berebut perputaran uang yang sesungguhnya hanya sebagian kecil dari total ekonomi nasional. Diperkirakan, uang yang benar-benar berputar di sektor riil ini nilainya bahkan tidak mencapai 10 persen dari keseluruhan aktivitas ekonomi.
Ironisnya, generasi muda yang paling berenergi, paling berani, paling kreatif, dan paling berpengaruh justru diarahkan ke sektor yang tidak menyerap tenaga kerja, tidak menciptakan produksi, dan minim dampak sosial langsung. Sektor ini kerap disebut “investasi”, padahal dalam praktiknya sering kali hanya menjadi perpindahan uang, bukan penciptaan kekayaan baru.
Uang yang Terbang dan Tak Pernah Turun
Uang yang seharusnya menghidupi pekerja, menggerakkan usaha kecil, dan menciptakan rantai produksi di sektor nyata, perlahan “terbang” ke sektor non-riil. Di sana, uang berputar di antara segelintir pemain, membesar di layar-layar digital, namun tidak pernah benar-benar turun ke bumi—tak dirasakan oleh masyarakat luas.
Realitas pahit ini melahirkan fenomena lain: munculnya influencer muda yang memamerkan kekayaan dari trading saham, kripto, atau instrumen spekulatif yang bahkan tak banyak dipahami secara mendalam. Narasi kesuksesan mereka diperkuat algoritma, diproduksi ulang, dan diamplifikasi.
Namun, cerita yang muncul selalu sama: yang untung menjadi konten, yang rugi menghilang.
Mereka yang bangkrut, kehilangan tabungan, atau gagal total tak pernah viral, tak pernah diundang podcast, dan tak pernah dijadikan studi kasus.
Inilah yang dikenal sebagai survivorship bias—kita hanya melihat mereka yang selamat, lalu mengira semua orang bisa sampai ke titik yang sama.
Masalahnya Bukan Sekadar Rugi Uang
Persoalan ini jauh lebih dalam dari sekadar kehilangan modal. Yang dipertaruhkan adalah arus uang dan masa depan ekonomi sosial. Ketika uang terkonsentrasi di sektor yang dingin, tanpa tenaga kerja dan tanpa efek sosial, maka distribusi kekayaan akan tersendat.
Tak heran jika masyarakat kemudian bertanya:
-
Mengapa ekonomi terasa makin sempit?
-
Mengapa kekayaan tak menetes ke bawah?
-
Mengapa anak muda terasa makin terasing dan gelisah?
Dalam pengamatan banyak pihak, generasi muda yang masuk ke dunia kripto atau trading ekstrem bukan karena bodoh atau serakah. Mereka justru rasional. Jalur masa depan yang masuk akal semakin menyempit: upah stagnan, harga aset melonjak, dan kerja keras tak lagi menjamin mobilitas sosial.
Secara teori ekonomi, ketika sebuah sistem gagal memberi harapan yang logis, jalan pintas akan selalu tampak lebih heroik.
Bahaya yang Lebih Sunyi
Namun, ada bahaya yang lebih sunyi dan jarang disadari. Ketika praktik ini dibiarkan, secara tidak langsung masyarakat sedang melatih satu generasi untuk percaya bahwa uang terbaik adalah uang yang tidak melewati tangan manusia lain.
Ini berbahaya bukan hanya secara moral dan keagamaan—karena spekulasi dan riba—tetapi juga secara kemanusiaan dan ekonomi. Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang menghubungkan manusia dengan manusia, produksi dengan konsumsi, dan kerja dengan kesejahteraan.
Jika uang yang kecil dan diperebutkan di sektor riil terus dialihkan ke sektor non-riil, maka yang tercipta bukan generasi investor produktif, melainkan generasi yang terputus dari realitas sosial.
Refleksi Akhir
Diam dan ikut arus bukanlah sikap netral. Ketika sektor riil dibiarkan kering dan generasi muda diarahkan ke layar-layar spekulasi, kita tidak sedang membangun masa depan—kita sedang menunda krisis yang lebih besar.
Karena kehilangan uang bisa dipulihkan.
Namun kehilangan arah, empati, dan keterhubungan sosial, adalah kerugian yang jauh lebih mahal.
