Di sebuah perempatan Karangnangka, aroma soto yang mengepul dari sebuah gerobak sederhana menjadi penanda kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti. Di balik gerobak itu berdiri sosok renta yang tetap tegak dalam semangat: Mak Iyam—bukan nama sebenarnya—perempuan berusia lebih dari 70 tahun yang hingga hari ini masih setia berjualan soto, melayani pelanggan dengan senyum yang tenang dan tangan yang tak pernah lelah.
Saya mengenalnya bukan sebagai pewawancara, melainkan sebagai pelanggan. Dari masa ketika harga soto masih Rp5.000 hingga kini menjadi Rp12.000, rasa itu tetap sama—hangat, jujur, dan penuh cerita. Suatu sore, obrolan ringan berubah menjadi kisah panjang tentang perjalanan hidup yang ditempa oleh waktu dan kesederhanaan.
Mak Iyam bercerita, akar perjuangannya bermula sejak era 1970-an. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar, mengikuti orang tuanya berjualan soto keliling di wilayah Desa Karangturi. Bukan dengan gerobak, melainkan dengan pikulan di pundak, menyusuri jalan desa yang masih berbatu, di masa ketika listrik belum masuk, dan kehidupan berjalan dalam keterbatasan yang nyaris total. Dari sanalah ia belajar—bukan dari buku, tetapi dari pengalaman hidup yang keras dan jujur.
Ketika orang tuanya wafat, Mak Iyam bersama suaminya tidak membiarkan warisan itu berhenti. Mereka beralih dari pikulan ke gerobak, menetap berjualan di area pasar, dan perlahan membangun kehidupan dari semangkuk demi semangkuk soto. Dalam kondisi serba terbatas, justru semangat hidup tumbuh kuat. Bukan kemewahan yang ia kejar, melainkan keberlanjutan hidup, martabat kerja, dan keteguhan untuk tidak menyerah.
Kini, di usianya yang lebih dari tujuh dekade, Mak Iyam telah memiliki anak dan belasan cucu. Di balik keriput wajah dan langkah yang melambat, tersimpan satu harapan sederhana: semoga salah satu dari mereka kelak mau melanjutkan usaha soto ini, bukan sekadar sebagai sumber ekonomi, tetapi sebagai warisan nilai—tentang kerja keras, kesabaran, dan ketekunan.
Soto buatannya bukan hanya soal rasa. Ia adalah jejak sejarah, memori kolektif, dan bukti bahwa ketahanan hidup tidak selalu lahir dari besar dan gemerlap, tetapi dari kesetiaan pada proses kecil yang dijalani terus-menerus. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba instan, Mak Iyam berdiri sebagai pengingat bahwa hidup yang bermakna sering kali tumbuh dari kesederhanaan yang dijaga dengan konsistensi.
Semoga Allah SWT memanjangkan umur Mak Iyam, melimpahkan kesehatan, dan menjadikan setiap mangkuk soto yang ia sajikan sebagai amal kebaikan yang terus mengalir. Sebab di perempatan Karangnangka itu, bukan hanya soto yang dijual, tetapi juga pelajaran tentang hidup, keteguhan, dan keberkahan.

.jpeg)
.jpeg)
