Sukoharjo - Di tengah tantangan ekonomi dan keterbatasan akses modal, jaringan Soboratan Preneur kembali menghadirkan sebuah model usaha yang sederhana, terjangkau, namun berdampak nyata bagi kemandirian ekonomi masyarakat. Kali ini, inspirasi datang dari Sukoharjo, tempat seorang pelaku ekonomi lokal merancang kandang ayam petelur tiga lantai yang dirancang khusus untuk skala rumahan, efisien, higienis, dan berorientasi produktivitas.
Kandang ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi sistem terintegrasi. Dengan lebar hanya 80 sentimeter dan harga sekitar Rp1,5 juta sudah lengkap dengan instalasi listrik, thermostat, serta sistem minum nipple otomatis, desain ini menjawab persoalan klasik beternak ayam di lingkungan rumah: bau, lalat, kebersihan, dan kerumitan perawatan. Setiap lantai memiliki fungsi spesifik—lantai pertama untuk indukan, lantai kedua untuk DOC (Day Old Chick) yang mampu menampung hingga 40 ekor, dan lantai ketiga untuk pembesaran—sehingga seluruh siklus produksi dapat berjalan dalam satu struktur kandang.
Material yang digunakan pun dirancang untuk ketahanan dan kebersihan, mulai dari rangka kayu Kalimantan, kawat ram sebagai penutup, hingga alas triplek 8 mm dan sistem litter box yang diisi dolomit, sekam padi kering, atau kotoran sapi/kambing kering. Kombinasi ini membuat kandang hampir tanpa bau dan tanpa lalat, sekaligus menghilangkan kebutuhan membersihkan kotoran setiap hari—sebuah solusi psikologis dan teknis bagi masyarakat yang selama ini enggan beternak karena faktor jijik dan tidak nyaman.
Dari sisi produktivitas, sistem ini dirancang sangat rasional. Dengan komposisi 4 betina dan 1 jantan per lantai, telur yang dihasilkan tetap fertil, memungkinkan dua segmen pasar berjalan sekaligus: konsumsi dan pembibitan. Untuk ayam jenis Elba, rata-rata produksi mencapai sekitar 300 telur per betina per tahun. Dengan 8 betina, potensi produksi bisa mencapai 2.400 telur per tahun atau sekitar 6–7 telur per hari. Telur fertil dapat dipasarkan ke peternak kecil dan komunitas mesin tetas melalui marketplace dan grup-grup komunitas daring, sementara telur infertil bisa dijual ke warung sekitar dengan harga setara telur ayam kampung.
Aspek efisiensi energi juga menjadi nilai tambah. Total kebutuhan listrik hanya sekitar 30 watt untuk seluruh kandang—lampu pemanas dan penerangan di setiap lantai—sehingga biaya operasional tetap rendah dan ramah bagi rumah tangga. Konsumsi pakan pun terukur, sekitar 70 gram per ekor per hari, dibagi pagi dan sore, menjadikan manajemen usaha lebih mudah dan terprediksi.
Lebih dari sekadar model bisnis, inisiatif ini mencerminkan semangat Soboratan Preneur dalam membangun ekonomi dari akar rumput. Jaringan ini tidak hanya menghubungkan komunitas dengan peluang, tetapi juga menghadirkan desain sistem yang membumi, realistis, dan dapat direplikasi oleh masyarakat luas. Ini adalah bentuk ekonomi kolaboratif: pengetahuan, teknologi sederhana, dan jejaring sosial bertemu dalam satu ekosistem pemberdayaan.
Di sinilah letak nilai inspirasinya. Bahwa kemandirian ekonomi tidak selalu lahir dari proyek besar dan modal besar, tetapi bisa tumbuh dari ruang sempit di halaman rumah, dari kandang kecil yang dirancang cerdas, dan dari komunitas yang saling menguatkan. Soboratan Preneur menunjukkan bahwa ketika inovasi berpihak pada rakyat kecil, maka ekonomi bukan lagi sekadar angka, tetapi menjadi jalan martabat, harapan, dan keberdayaan.
Model kandang tiga lantai ini bukan hanya tentang ayam dan telur, tetapi tentang visi: membangun masa depan ekonomi keluarga dari sistem yang sederhana, bersih, efisien, dan berkelanjutan—sebuah langkah kecil yang jika direplikasi, dapat menjadi gerakan besar bagi kemandirian desa dan ekonomi rakyat.
Bagi masyarakat, komunitas, atau pelaku usaha yang tertarik untuk membeli produk kandang ayam tiga lantai tersebut, dapat langsung menghubungi Tim Ekonomi Soboratan Preneur melalui kantor pusat Soboratan Preneur di Desa Kaliwinasuh, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara.
Tim Ekonomi Soboratan Preneur siap memberikan informasi lengkap terkait spesifikasi produk, harga, sistem pemesanan, pengiriman, hingga pendampingan teknis pemeliharaan, sebagai bagian dari komitmen membangun ekosistem ekonomi rakyat yang mandiri, berkelanjutan, dan berdaya saing.

.jpeg)