MALANG – Ombak besar, laut dalam, dan risiko maut adalah bagian dari keseharian seorang nelayan. Namun, di balik kerasnya kehidupan pesisir, lahir sosok inspiratif bernama Budi Hari, nelayan asal Tamban, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang yang berhasil mengubah profesi tradisional menjadi bisnis ekspor bernilai ratusan juta rupiah per hari.
Budi mulai melaut sejak usia 14 tahun. Bukan karena cita-cita, melainkan keterpaksaan hidup. Ketidakmampuan orang tua membiayai pendidikannya memaksanya meninggalkan bangku sekolah dan memilih laut sebagai ruang belajar. Sejak remaja, ia telah mengarungi perairan selatan Jawa, menangkap berbagai jenis hasil laut seperti tengiri, kerapu, gurita, hingga lobster.
Dengan perahu tempel sederhana, Budi menjelajah laut dari ujung Pacitan hingga Banyuwangi, menyusuri kerasnya Samudra Hindia yang dikenal sebagai salah satu perairan paling berbahaya di Indonesia. Namun, keterbatasan fasilitas dan risiko tinggi tidak memadamkan semangatnya. Justru dari kerasnya laut, lahir mental baja dan etos kerja tanpa kompromi.
Seiring waktu, Budi menyadari satu hal penting: nelayan kecil akan selalu tertinggal jika hanya menjadi penangkap ikan, bukan pengelola hasil laut. Dari pemikiran inilah muncul keberanian untuk melangkah lebih jauh — tidak hanya melaut, tetapi juga mengelola, menampung, mengemas, dan memasarkan hasil tangkapan secara mandiri.
Titik balik hidupnya terjadi ketika ia bertemu dengan seorang pengusaha asal Taiwan yang memberinya pinjaman sebesar Rp300 ribu — jumlah kecil, namun bermakna besar. Modal tersebut digunakan Budi untuk membangun kolam penampungan lobster. Dari sinilah sistem usaha modern mulai terbentuk: instalasi penampungan, penyortiran, hingga pengemasan lobster hidup agar tetap segar hingga ke tangan pembeli.
Langkah strategis ini melahirkan usaha perikanan UD Lancar, yang kini menjadi pintu masuk Budi ke pasar ekspor internasional. Lobster hasil tangkapannya dikirim melalui jalur logistik Denpasar, Bali, untuk diekspor ke Hong Kong dan Singapura.
Tak hanya lobster, Budi juga menjadi pemasok gurita untuk industri pengolahan hasil laut di Surabaya, Jawa Timur. Rantai bisnis yang dibangunnya kini tidak lagi berskala lokal, tetapi menjadi bagian dari sistem distribusi pangan laut nasional dan internasional.
Hampir 30 tahun Budi menjalani kehidupan ini — dari nelayan kecil tanpa modal, hingga menjadi pelaku usaha perikanan ekspor. Kini, omzet usahanya disebut mampu mencapai Rp150 juta per hari, sebuah angka yang membuktikan bahwa sektor maritim bukan sektor marginal, melainkan ladang masa depan jika dikelola dengan visi dan strategi.
Namun, kesuksesan itu tidak lahir dari keberuntungan semata. Ia dibangun dari keberanian mengambil risiko, kemauan belajar, ketekunan, dan mental pantang menyerah. Budi tidak hanya menghadapi gelombang laut, tetapi juga gelombang kegagalan, keterbatasan modal, minim akses pasar, dan stigma profesi nelayan.
“Laut mengajarkan saya tentang kesabaran, keberanian, dan ketekunan. Kalau takut ombak, jangan ke laut. Kalau takut gagal, jangan bermimpi besar,” menjadi filosofi hidup yang ia pegang hingga hari ini.
Kisah Budi Hari menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh latar belakang, pendidikan formal, atau modal besar, tetapi oleh keberanian untuk memulai, konsistensi dalam berjuang, dan kemauan untuk naik kelas secara mental dan sistem.
Dari pesisir Malang, seorang nelayan membuktikan bahwa laut bukan sekadar tempat mencari ikan — tetapi ruang membangun masa depan, martabat, dan kesejahteraan. Kisah ini bukan hanya tentang Budi Hari, tetapi tentang harapan: bahwa anak-anak pesisir Indonesia bisa bermimpi besar, menembus batas lokal, dan berdiri sejajar di pasar global.
