Kisah Nyoman Suwitra “Pak Sawit”, Inspirasi Nelayan Budidaya dari Pesisir Buleleng

CenterSoboratan
0

 

BULELENG, BALI — Di pesisir utara Bali, tepatnya di Desa Penyabangan, hidup seorang tokoh sederhana yang kini menjadi simbol perubahan ekonomi masyarakat pesisir. Namanya Nyoman Suwitra, yang lebih dikenal sebagai Pak Sawit — seorang nelayan pembudidaya bibit ikan laut (nener dan kerapu) yang sukses menembus pasar nasional hingga internasional.


Sebelum dikenal sebagai pengusaha perikanan budidaya, kehidupan Pak Sawit jauh dari kata mapan. Lulusan sekolah dasar ini pernah menjadi kernet selama tiga tahun dengan penghasilan hanya Rp100 ribu per bulan. Ia kemudian bekerja sebagai sopir selama sepuluh tahun, dengan upah rata-rata Rp800 ribu per bulan. Di sela pekerjaannya, ia menjadi nelayan sambilan di desanya — hidup dalam keterbatasan, namun tak pernah kehilangan semangat.


Perubahan hidupnya dimulai sejak 1998, ketika ia mencoba peruntungan membudidayakan ikan laut di tambak kecil. Modal awalnya berasal dari hasil penjualan dua ekor sapi. Namun kegagalan pun datang lebih dulu karena minimnya pengetahuan teknik budidaya. Ia sempat kembali menjadi sopir demi mengumpulkan modal, lalu bangkit kembali merintis usaha budidaya ikan laut. Dari titik inilah perjalanan besarnya dimulai.


Momentum penting terjadi saat para nelayan Kecamatan Gerokgak mendapat penyuluhan dari Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol. Sejak itu, para nelayan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada laut lepas, tetapi mulai menekuni budidaya bibit ikan nener dan kerapu secara terstruktur dan berkelanjutan.


Hasilnya perlahan tapi pasti mengubah kehidupan. Dari satu bak budidaya, Pak Sawit mampu menghasilkan hingga 100.000 ekor bibit nener dalam 18 hari. Keuntungan dari budidaya ikan bandeng ia tabung di LPD, dan dari bunga tabungan itulah kebutuhan keluarganya terpenuhi, sehingga seluruh modal usaha bisa terus diputar untuk pengembangan tambak.


Kini, hasil budidaya nener dan kerapu miliknya dikirim ke berbagai wilayah Indonesia seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi, serta diekspor ke Taiwan dan Filipina. Dari seorang sopir desa, Pak Sawit kini menjelma menjadi pelaku utama rantai ekspor perikanan budidaya.


Keberhasilan itu tidak hanya mengubah hidupnya secara ekonomi — mampu membangun rumah layak, membeli tanah, memiliki mobil, serta menyekolahkan anak hingga ke luar daerah — tetapi juga mengubah wajah ekonomi pesisir Gerokgak. Ia dipercaya menjadi Ketua Perhimpunan Petani Pembudidaya Ikan Pantai Buleleng, dan mengoordinasikan pengiriman ekspor benih ikan secara kolektif oleh para pengusaha tambak setempat.


Bahkan di masa pandemi Covid-19, sistem kolektif ini justru menjadi solusi. Dalam satu kali pengiriman ekspor, volume bisa mencapai 15–20 juta ekor bibit nener, dilakukan secara gabungan untuk menyiasati keterbatasan penerbangan internasional.


Namun di balik kesuksesan besar itu, Pak Sawit memegang filosofi hidup yang sederhana:

“Ketekunan, kerja keras, hidup hemat. Jangan ambisi, jangan emosi, jangan gengsi.”


Sebagai umat Hindu Bali, ia meyakini bahwa keseimbangan hidup hanya bisa tercapai jika ekonomi dan spiritual berjalan beriringan. Ia memegang teguh ajaran orang tuanya untuk bekerja keras dan rutin berbagi kepada sesama. Baginya, keberhasilan sejati bukan soal kekayaan pribadi, tetapi kebermanfaatan sosial.


Ia tidak mau sukses sendiri. Sejak 1998, Pak Sawit mengajak warga Gerokgak beralih dari menggarap tanah kering menjadi mengelola tambak budidaya ikan laut. Secara perlahan, wilayah pesisir yang dahulu gersang kini berubah menjadi sentra pembudidayaan ikan laut berorientasi ekspor.


Kisah hidupnya juga diwarnai nilai kemanusiaan yang kuat. Ia mengenang peristiwa menjelang Hari Raya Galungan di era 1990-an, saat mendengar percakapan lima janda lansia yang tak mampu membeli daging dan beras untuk hari raya. Sejak saat itu, ia mulai rutin melakukan “meyadnya” — berbagi sebagai wujud ibadah sosial, bukan sekadar amal.


Menurutnya, ajaran Hindu mengajarkan satu hal utama: bekerja adalah ibadah (karma baik). Rezeki yang bersih hanya lahir dari kerja yang bersih, niat yang bersih, dan hati yang bersih.


Kini, selain tambak ikan, Pak Sawit juga mengembangkan usaha pertanian lain seperti peternakan sapi Bali, perkebunan anggur, durian, panili, dan cengkeh — membangun ekosistem ekonomi desa yang beragam dan berkelanjutan.


Kisah Nyoman Suwitra adalah potret nyata bahwa kemiskinan bukan takdir, keterbatasan bukan akhir, dan pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Dengan ketekunan, keberanian belajar, spiritualitas yang kuat, serta komitmen sosial, seorang anak desa bisa membangun sistem ekonomi yang menghidupi banyak orang.


Dari pesisir Gerokgak, Pak Sawit membuktikan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya soal kaya, tetapi soal membawa orang lain ikut sejahtera.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default