Banjarnegara – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1445 Hijriah (2023 M) kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat Desa Kaliwinasuh dan sekitarnya untuk merefleksikan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kegiatan yang digelar dengan khidmat ini menghadirkan Al Habib Muh bin Syuaib sebagai penceramah utama dengan tema besar “Pecinta Nabi SAW dan Keluarga Suci Nabi adalah Pecinta NKRI.”
Tema tersebut menegaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak hanya diwujudkan dalam ibadah dan shalawat, tetapi juga tercermin dalam sikap menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pesan ini menjadi sangat relevan di tengah tantangan sosial dan ideologis yang kerap menguji kohesi bangsa.
Ruang Spiritualitas dan Kebangsaan
Acara Maulid Nabi ini dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari Komunitas Soboratan Preneur, anak-anak YLPP Al Qoim, masyarakat sekitar desa, majelis taklim, tokoh masyarakat, hingga para warga dan sesepuh PSHT. Kehadiran lintas elemen tersebut mencerminkan kuatnya nilai persaudaraan (ukhuwah) yang dibangun melalui pendekatan spiritual dan kultural.
Maulid Nabi tidak semata menjadi perayaan seremonial, melainkan juga ruang dialog moral yang menyatukan berbagai latar belakang dalam satu semangat: meneladani akhlak Rasulullah SAW sebagai jalan membangun masyarakat yang damai dan beradab.
Pesan Habib: Cinta Nabi Tidak Bertentangan dengan Cinta Tanah Air
Dalam tausiyahnya, Al Habib Muh bin Syuaib menekankan bahwa mencintai Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Bait bukanlah sikap eksklusif, melainkan ajaran yang justru melahirkan kasih sayang universal. Dari cinta itulah lahir komitmen menjaga keamanan, ketertiban, dan persatuan bangsa.
Menurutnya, nilai-nilai kenabian seperti kejujuran, amanah, keadilan, dan sikap menghargai sesama merupakan fondasi utama dalam membangun negara yang kuat. Oleh karena itu, umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi penjaga harmoni sosial dan keutuhan NKRI.
Peran Generasi Muda dalam Merawat Nilai
Kehadiran anak-anak YLPP Al Qoim dalam peringatan Maulid ini menjadi simbol penting regenerasi nilai. Sejak dini, generasi muda diperkenalkan pada kecintaan kepada Rasulullah SAW yang tidak terpisah dari tanggung jawab sosial dan kebangsaan.
Sementara itu, partisipasi Soboratan Preneur menunjukkan bahwa nilai spiritual dapat berjalan seiring dengan gerakan sosial dan ekonomi berbasis pemberdayaan masyarakat. Spirit Maulid menjadi pengingat bahwa kemajuan material perlu dibingkai oleh moral dan etika.
Maulid sebagai Perekat Sosial
Peringatan Maulid Nabi 1445 H ini sekaligus memperkuat posisi kegiatan keagamaan sebagai perekat sosial. Di tengah dinamika zaman yang sarat dengan polarisasi, kegiatan seperti ini menjadi oase kebersamaan yang mempertemukan tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi, dan warga dalam satu majelis cinta.
Para sesepuh PSHT yang hadir juga menegaskan bahwa nilai persaudaraan dan budi pekerti luhur yang diajarkan Rasulullah SAW sejalan dengan falsafah persaudaraan sejati yang dijunjung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat.
Harapan dan Refleksi
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1445 H ini, masyarakat berharap nilai-nilai kenabian semakin mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Cinta kepada Rasulullah SAW diharapkan tidak berhenti pada lisan dan ritual, tetapi menjelma menjadi tindakan nyata: menjaga persatuan, menebar kebaikan, dan merawat Indonesia sebagai rumah bersama.
Maulid Nabi pun kembali menegaskan satu pesan utama: mencintai Rasulullah SAW berarti mencintai kemanusiaan, dan mencintai kemanusiaan adalah bentuk nyata mencintai NKRI.




