Di sebuah sudut Bangsri, sebuah kisah sederhana namun penuh makna tumbuh dari ikatan lama yang tak lekang oleh waktu. Kisah itu bermula dari sekelompok sahabat yang dahulu duduk bersama di bangku SMA—bercanda, belajar, dan bermimpi tentang masa depan. Waktu membawa mereka ke jalan masing-masing, namun hati mereka tetap terhubung dalam satu rasa: persaudaraan.
Dari sanalah lahir sebuah komunitas bernama SABAR—Sahabat Berbagi Ramadhan. Bukan sekadar nama, tetapi juga doa dan prinsip hidup. Sejak tahun 2022, mereka sepakat untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum kembali berkumpul, bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi juga untuk berbagi kepada sesama. Tahun demi tahun berlalu, hingga kini memasuki tahun kelima, langkah kecil itu tetap terjaga dengan penuh istiqomah.
Di antara mereka, ada sosok Muhamad—atau yang akrab disapa Kak Muh. Ia bukan seorang pengangguran yang memiliki waktu luang berlebih. Kesibukan pekerjaan menjadi jadwal hariannya. Namun, di sela aktivitasnya, ia selalu berusaha hadir, menyumbangkan tenaga, pikiran, bahkan sekadar senyum untuk memastikan komunitas ini terus berjalan.
Bagi Kak Muhamad, berkhidmat adalah pilihan hidup. Di tengah realitas banyaknya anak muda yang larut dalam kesibukan pribadi, ia justru memilih jalan berbeda—jalan pengabdian. Ia meyakini bahwa khidmat tidak harus selalu dalam bentuk besar dan megah. Justru, dari niat yang tulus dan langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, lahir dampak yang luar biasa.
“Tidak perlu menunggu mampu untuk memberi yang besar. Cukup mulai dari yang kita bisa, dari yang kita punya,” menjadi prinsip yang ia pegang.
Inspirasi itu tidak datang begitu saja. Mas Muhamad melihat di sekitarnya ada komunitas lain yang lebih dahulu bergerak dalam kegiatan sosial. Alih-alih merasa kecil, ia justru terdorong untuk ikut mengambil peran—meski dalam lingkup yang berbeda. Ditambah lagi, dorongan dari orang tua dan para guru semakin menguatkan langkahnya untuk terus berjalan di jalur kebaikan.
Kini, SABAR bukan hanya tentang reuni tahunan. Ia telah menjadi ruang tumbuh—tempat di mana persahabatan menjelma menjadi kepedulian, dan kenangan masa lalu berubah menjadi gerakan nyata untuk masa depan.
Kisah ini mengajarkan satu hal penting: bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, ia lahir dari sekumpulan sahabat yang memilih untuk tetap peduli, dari seseorang yang tetap meluangkan waktu di tengah kesibukan, dan dari niat tulus yang tidak pernah padam.
SABAR telah membuktikan—bahwa ketika hati masih mau berbagi, harapan akan selalu hidup.

.jpeg)