Antara Sebab yang Kita Jalani dan Hasil yang Tidak Pernah Sepenuhnya Kita Miliki
Ada dua kata yang sering kita ucapkan ketika menjalani hidup:
Ikhtiar.
Dan:
Tawakal.
Keduanya sering ditempatkan seperti dua dunia yang berbeda.
Ikhtiar dianggap sebagai wilayah manusia: bekerja, belajar, berlatih, merencanakan, menabung, menjaga kesehatan, membangun relasi, meningkatkan kemampuan, mengambil keputusan.
Sedangkan tawakal dianggap sebagai wilayah Allah: menyerahkan hasil, menerima takdir, percaya kepada sesuatu yang tidak kita ketahui.
Seolah-olah manusia berkata:
«"Bagian saya adalah berusaha.
Setelah itu bagian Allah."»
Tetapi apakah sesederhana itu?
Kalau benar demikian, seakan-akan ada wilayah kehidupan yang sepenuhnya milik manusia dan ada wilayah lain yang sepenuhnya milik Tuhan.
Di sinilah filsafat tauhid mengajak kita berpikir lebih dalam.
Sebab dalam pandangan Islam, persoalannya bukan sekadar "usaha atau berserah diri?"
Tetapi:
«"Siapa sebenarnya yang bekerja melalui usaha kita?"»
Kita Berusaha, Tetapi Apakah Kita Menciptakan Hasil?
Bayangkan seseorang belajar selama bertahun-tahun.
Ia disiplin.
Ia membaca buku.
Mengikuti kursus.
Berlatih.
Bangun pagi.
Bekerja keras.
Kemampuannya meningkat.
Secara logis, peluang keberhasilannya juga semakin besar.
Inilah wilayah ikhtiar.
Tetapi kemudian sesuatu terjadi.
Ia sudah melakukan semuanya dengan baik, namun hasilnya tidak sesuai harapan.
Ia gagal dalam ujian.
Usahanya bangkrut.
Pekerjaannya hilang.
Proyeknya ditolak.
Orang yang ia cintai pergi.
Atau sesuatu yang sama sekali tidak masuk dalam perhitungannya tiba-tiba terjadi.
Lalu muncul pertanyaan:
"Kalau saya sudah berusaha, kenapa hasilnya tetap seperti ini?"
Pertanyaan itu membawa kita pada batas fundamental manusia.
Kita mampu mengendalikan tindakan, tetapi tidak memiliki kekuasaan mutlak atas realitas.
Kita bisa menanam.
Tetapi kita tidak menciptakan hujan.
Kita bisa belajar.
Tetapi kita tidak menciptakan seluruh keadaan yang menentukan hasil ujian.
Kita bisa menjaga kesehatan.
Tetapi kita tidak menguasai seluruh variabel kehidupan.
Kita bisa membangun bisnis.
Tetapi kita tidak menguasai pasar, manusia, ekonomi, bencana, perubahan zaman dan jutaan sebab lain yang berada di luar kendali kita.
Maka manusia hidup di antara dua kenyataan:
ada sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya, dan ada sesuatu yang berada di luar kuasanya.
Namun di sinilah Islam memberikan kedalaman yang luar biasa.
Allah tidak mengatakan:
«"Berhenti berusaha dan tunggulah Aku."»
Sebaliknya, Al-Qur'an memerintahkan persiapan dan kekuatan:
«"Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala kekuatan yang kamu sanggupi..."
(QS. Al-Anfal: 60).»
Dan dalam konteks pengambilan keputusan, Al-Qur'an bahkan menyusun urutan yang sangat menarik:
bermusyawarah → mengambil keputusan → bertawakal.
"Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
(QS. Ali 'Imran: 159).
Perhatikan urutannya.
Bukan:
tawakal → kemudian tidak melakukan apa-apa.
Tetapi:
pertimbangkan → putuskan → bergerak → tawakal.
Ini penting.
Karena tawakal dalam Islam bukan lawan dari ikhtiar.
Tawakal adalah cara seorang mukmin menempatkan ikhtiarnya di hadapan Allah.
Masalahnya Bukan Ikhtiar, Tetapi Kepada Siapa Kita Bersandar
Ada dua manusia.
Yang pertama bekerja keras lalu berkata:
«"Aku berhasil karena aku hebat."»
Yang kedua bekerja keras lalu berkata:
«"Aku sudah melakukan yang terbaik. Keberhasilan tetap bukan milikku sepenuhnya."»
Keduanya sama-sama bekerja.
Tetapi secara spiritual mereka berbeda.
Yang pertama mungkin telah terjebak dalam ketergantungan kepada sebab.
Yang kedua menggunakan sebab tanpa menjadikan sebab sebagai penguasa mutlak.
Inilah salah satu kedalaman tauhid.
Sebab tetap memiliki fungsi.
Ilmu memiliki fungsi.
Uang memiliki fungsi.
Obat memiliki fungsi.
Koneksi memiliki fungsi.
Disiplin memiliki fungsi.
Strategi memiliki fungsi.
Tetapi semuanya bukan independent cause yang berdiri sendiri.
Dalam pandangan tauhid, sebab-sebab itu sendiri berada dalam jaringan kehendak dan ketergantungan kepada Allah.
Karena itu tawakal bukan berarti:
«"Saya tidak perlu sebab."»
Tetapi:
«"Saya menggunakan sebab tanpa menyembah sebab."»
Ini perbedaan yang sangat besar.
Tawakal Bukan Berhenti Menggunakan Akal
Kadang kita menemukan kalimat:
"Sudahlah, tawakal saja."
Kalimat itu bisa sangat indah.
Tetapi bisa juga menjadi tempat persembunyian kemalasan.
Seseorang tidak belajar lalu berkata tawakal.
Tidak bekerja lalu berkata rezeki sudah diatur.
Tidak merencanakan lalu berkata Allah yang menentukan.
Tidak memperbaiki kesalahan lalu berkata itu takdir.
Ini bukan tawakal.
Ini bisa menjadi cara ego melindungi dirinya dari tanggung jawab.
Dalam literatur Islam, tawakal justru ditegaskan tidak bertentangan dengan usaha. Pembahasan tentang tawakal menekankan bahwa manusia tetap menggunakan kemampuan dan sebab-sebab yang tersedia, tetapi tidak menganggap sebab material sebagai kekuatan yang berdiri sendiri.
Dengan kata lain:
Ikhtiar tanpa tawakal bisa melahirkan kesombongan.
Karena manusia merasa:
"Aku mengendalikan semuanya."
Sedangkan:
Tawakal tanpa ikhtiar bisa berubah menjadi kemalasan.
Karena manusia berkata:
"Allah akan mengurus semuanya."
Maka seorang mukmin berjalan di antara keduanya.
Tangannya bekerja.
Akalnya berpikir.
Kakinya bergerak.
Tetapi hatinya tidak diperbudak oleh hasil.
Di Sinilah Konsep "Amr Bayn al-Amrayn" Menjadi Penting
Dalam teologi Islam terdapat prinsip terkenal:
لا جبر ولا تفويض بل أمر بين أمرين
"Tidak ada pemaksaan mutlak dan tidak pula penyerahan mutlak, tetapi suatu perkara di antara keduanya."
Prinsip ini biasanya dibahas dalam persoalan kehendak bebas dan takdir.
Tetapi secara filosofis ia sangat membantu memahami ikhtiar dan tawakal.
Manusia bukan robot.
Kalau manusia sepenuhnya dipaksa, maka tanggung jawab moral menjadi tidak bermakna.
Tetapi manusia juga bukan Tuhan kecil yang memiliki kedaulatan absolut atas hidupnya.
Ia memiliki kehendak.
Ia memilih.
Ia berusaha.
Ia bertanggung jawab.
Namun keberadaannya, kemampuannya, kesempatan yang tersedia, jaringan sebab-akibat dan hasil akhir semuanya tetap bergantung kepada Allah.
Itulah posisi tengah:
bukan fatalisme, bukan pula kemandirian mutlak manusia.
Imam Ja'far al-Shadiq menjelaskan prinsip ini sebagai posisi di antara dua ekstrem: bukan determinisme mutlak dan bukan kebebasan absolut.
Maka seorang manusia bisa berkata:
«"Aku bertanggung jawab atas pilihanku, tetapi aku tidak berkuasa mutlak atas akibatnya."»
Dan kalimat itu mungkin merupakan salah satu bentuk kedewasaan spiritual.
Kalau Begitu, Apa yang Sebenarnya Kita Serahkan kepada Allah?
Ini bagian yang sering salah dipahami.
Tawakal bukan menyerahkan kewajiban kepada Allah.
Kita tidak bisa berkata:
"Ya Allah, Engkau yang menentukan, maka aku tidak perlu bekerja."
Tidak.
Yang kita serahkan adalah hasil yang berada di luar kendali kita, setelah kita menjalankan tanggung jawab yang berada dalam kendali kita.
Misalnya seorang pemuda ingin membangun usaha.
Ikhtiarnya:
belajar bisnis,
mencari pasar,
menghitung risiko,
mengelola keuangan,
memperbaiki produk,
beriklan,
melayani pelanggan,
mengevaluasi kesalahan.
Itu semua tanggung jawabnya.
Tetapi setelah semua itu dilakukan, apakah pasar akan menerima?
Apakah ekonomi stabil?
Apakah pelanggan datang?
Apakah akan ada kejadian tak terduga?
Apakah usahanya menjadi besar?
Tidak semuanya berada dalam tangannya.
Maka ia berkata:
«"Aku akan mengerjakan bagianku dengan sebaik mungkin.
Tetapi aku tidak akan memaksa Allah untuk memberikan hasil sesuai keinginanku."»
Inilah tawakal.
Tawakal Bukan Jaminan Bahwa Kita Mendapatkan Apa yang Kita Inginkan
Ini juga penting.
Kadang manusia mengira:
"Saya sudah tawakal, maka Allah pasti membuat saya berhasil."
Tidak selalu.
Tawakal bukan kontrak bahwa Allah harus mengikuti skenario kita.
QS. At-Talaq 65:3 mengatakan bahwa siapa yang bertawakal kepada Allah, Allah akan mencukupinya, sekaligus menegaskan bahwa Allah menetapkan ukuran bagi segala sesuatu.
Maka "dicukupi" tidak selalu berarti:
mendapatkan apa yang kita minta.
Bisa berarti mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk perjalanan kita.
Kadang kita meminta pintu A.
Allah menutupnya.
Kita kecewa.
Beberapa tahun kemudian kita sadar:
ternyata pintu itu memang bukan jalan kita.
Di sinilah tawakal mulai bergerak menuju sesuatu yang lebih tinggi:
ridha.
Tawakal berkata:
«"Ya Allah, aku percaya kepada-Mu."»
Ridha berkata:
«"Aku menerima bahwa Engkau lebih mengetahui daripada diriku."»
---
Tawakal Memiliki Tingkatan
Dalam sebuah riwayat menjelaskan bahwa tawakal memiliki beberapa tingkatan. Salah satunya adalah menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, ridha terhadap apa yang Allah lakukan, dan yakin bahwa Allah tidak menghendaki keburukan bagi hamba-Nya.
Ini menunjukkan bahwa tawakal bukan sekadar kalimat:
"Saya pasrah."
Tawakal adalah transformasi hubungan batin dengan realitas.
Kita tetap bergerak.
Tetap merencanakan.
Tetap berjuang.
Tetap menggunakan ilmu.
Tetap melakukan evaluasi.
Tetapi hati tidak lagi berkata:
«"Hasil harus seperti yang aku inginkan."»
Hati berkata:
«"Aku melakukan yang terbaik karena itu tugasku.
Hasil akhirnya aku serahkan kepada Yang Maha Mengetahui."»
Lalu Bagaimana dengan Kejadian yang di Luar Prediksi?
Inilah wilayah yang sering kita sebut sebagai "ghaib".
Tetapi hati-hati.
Tawakal bukan berarti kita mengetahui sesuatu yang ghaib.
Justru sebaliknya.
Tawakal lahir dari kesadaran bahwa kita tidak mengetahui seluruh yang ghaib.
Kita tidak tahu apa yang terjadi besok.
Kita tidak tahu siapa yang akan datang dalam hidup kita.
Kita tidak tahu peluang apa yang akan terbuka.
Kita tidak tahu musibah apa yang mungkin terjadi.
Kita bahkan sering tidak tahu bahwa sesuatu yang kita anggap musibah ternyata kelak menjadi jalan pertumbuhan.
Maka tawakal adalah pengakuan:
«"Aku tidak tahu seluruh peta kehidupan, tetapi aku percaya kepada Pemilik peta."»
Ini jauh lebih dalam daripada sekadar:
"Semoga semuanya baik-baik saja."
Ikhtiar Mengubah Kita, Tawakal Membebaskan Kita dari Perbudakan Hasil
Ada paradoks yang indah.
Ikhtiar membuat kita aktif.
Tawakal membuat hati kita bebas.
Ikhtiar mengatakan:
«"Kerjakan."»
Tawakal mengatakan:
«"Jangan menyembah hasil."»
Ikhtiar membuat kita disiplin.
Tawakal membuat kita tidak sombong ketika berhasil.
Ikhtiar membuat kita berani mencoba.
Tawakal membuat kita tidak hancur ketika gagal.
Ikhtiar membuat kita menggunakan seluruh kemampuan.
Tawakal mengingatkan:
«kemampuan itu sendiri adalah pemberian.»
Maka seorang mukmin yang berhasil tidak berkata:
"Aku menciptakan keberhasilanku."
Ia berkata:
"Aku diberi kesempatan untuk menjadi sebab dari keberhasilan itu."
Dan ketika gagal, ia tidak berkata:
"Aku manusia gagal."
Ia bertanya:
«"Apa yang harus kupelajari dari kegagalan ini?"»
Ia memperbaiki ikhtiar.
Bukan menyalahkan takdir.
Ali bin Abi Thalib dan Kesadaran atas Batas Manusia
Ada ungkapan yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib tentang bagaimana seseorang mengenal Allah melalui pecahnya berbagai keputusan, berubahnya niat dan hilangnya keberanian. Maknanya sangat dalam: manusia merencanakan, tetapi realitas menunjukkan bahwa kehendak manusia tidak pernah menjadi penguasa absolut atas keberadaan.
Kita membuat rencana.
Kemudian hidup berkata lain.
Kita menentukan arah.
Kemudian sebuah peristiwa mengubah jalan.
Kita yakin.
Kemudian sesuatu membuat kita ragu.
Kita mengejar sesuatu.
Kemudian kita mendapat sesuatu yang sama sekali tidak kita cari.
Apakah itu berarti ikhtiar kita sia-sia?
Tidak.
Karena mungkin tujuan terdalam dari ikhtiar bukan sekadar mendapatkan hasil, tetapi menjadi manusia yang lebih matang melalui proses mengejarnya.
Maka Apa Ukuran Keberhasilan Seorang Mukmin?
Ini pertanyaan penting.
Jika hasil tidak sepenuhnya berada di tangan kita, lalu apa yang sebenarnya dinilai?
Al-Qur'an mengatakan:
«"Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."
(QS. An-Najm: 39).»
Ayat ini mengajarkan pentingnya usaha manusia.
Tetapi usaha bukan berarti hasil selalu identik dengan keinginan.
Maka ada kemungkinan yang sangat menarik:
seseorang kalah secara hasil, tetapi menang secara spiritual.
Ia gagal dalam bisnis tetapi menjadi lebih jujur.
Ia gagal dalam kompetisi tetapi menjadi lebih disiplin.
Ia kehilangan seseorang tetapi menjadi lebih dekat kepada Allah.
Ia gagal mencapai posisi tertentu tetapi terhindar dari kesombongan.
Ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan tetapi memperoleh sesuatu yang lebih penting:
kedewasaan jiwa.
Dalam perspektif ini, keberhasilan tidak selalu berbentuk sesuatu yang bisa difoto, diposting, atau dipamerkan.
Kadang keberhasilan adalah:
hati yang tidak lagi mudah runtuh.
Tawakal yang Sejati Tidak Membuat Kita Duduk
Ada kisah populer dalam literatur Islam tentang seseorang yang membiarkan untanya tanpa pengamanan dengan alasan tawakal.
Pesan yang sering ditarik dari kisah itu sederhana:
ikatlah unta, kemudian bertawakallah kepada Allah.
Terlepas dari variasi redaksi dan sumber riwayatnya, makna etisnya selaras dengan prinsip yang kuat dalam ajaran Islam: tawakal bukan meninggalkan sebab.
Dalam literatur Islam, gagasan yang sama ditegaskan secara eksplisit: usaha tidak bertentangan dengan tawakal; yang keliru adalah menganggap sebab-sebab material sebagai sesuatu yang independen dari Allah.
Jadi:
Ikat untamu.
Periksa rem kendaraanmu.
Belajar sebelum ujian.
Rencanakan bisnis.
Jaga kesehatan.
Cari pekerjaan.
Latih kemampuan.
Perbaiki hubungan.
Minta nasihat.
Hitung risiko.
Berdoa.
Lalu setelah semua yang menjadi bagianmu dilakukan:
lepaskan kebutuhan untuk mengendalikan seluruh hasil.
Itulah tawakal.
Pada Akhirnya, Ikhtiar dan Tawakal Bukan Dua Jalan
Keduanya adalah satu perjalanan.
Ikhtiar adalah bahasa tubuh.
Tawakal adalah bahasa hati.
Ikhtiar membuat tangan bergerak.
Tawakal membuat hati tidak bergantung kepada gerakan tangan itu sendiri.
Ikhtiar membuat manusia mengambil sebab.
Tawakal membuat manusia tahu bahwa sebab bukan Tuhan.
Ikhtiar berkata:
«"Aku akan berusaha."»
Tawakal berkata:
«"Aku percaya kepada Allah."»
Ikhtiar berkata:
«"Aku bertanggung jawab."»
Tawakal berkata:
«"Aku tidak menguasai semuanya."»
Ikhtiar berkata:
«"Aku harus bergerak."»
Tawakal berkata:
«"Aku tidak boleh menyembah hasil."»
Dan ketika keduanya bertemu, lahirlah manusia yang unik:
aktif tanpa sombong,
berani tanpa merasa berkuasa mutlak,
bekerja keras tanpa kehilangan ketenangan,
menerima kegagalan tanpa kehilangan harapan,
dan
mengejar dunia tanpa menjadikan dunia sebagai Tuhan.
Mungkin itulah salah satu wajah tauhid dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan berhenti bergerak karena percaya kepada Allah.
Tetapi justru bergerak karena percaya kepada Allah.
Kita bekerja karena itu amanah.
Kita belajar karena itu tanggung jawab.
Kita berjuang karena itu bagian dari kehendak kita.
Kita menggunakan sebab karena Allah menciptakan dunia dengan keteraturan sebab-akibat.
Tetapi setelah semuanya dilakukan, kita berkata:
«"Ya Allah, aku sudah mengetuk pintu dengan tanganku.
Jika pintu ini terbuka, aku bersyukur.
Jika pintu ini tertutup, aku belajar.
Jika Engkau mengarahkanku ke pintu lain, aku mengikuti.
Karena tugasku bukan memaksa takdir mengikuti keinginanku.
Tugasku adalah berjalan dengan benar di hadapan-Mu."»
Dan mungkin di situlah ikhtiar berhenti menjadi sekadar kerja keras.
Ia berubah menjadi ibadah.
Dan tawakal berhenti menjadi sekadar pasrah.
Ia berubah menjadi tauhid yang hidup di dalam hati.
Tangan kita menggenggam ikhtiar.
Hati kita menggenggam Allah.
Keduanya tidak bertentangan.
Justru ketika keduanya menyatu,
manusia bergerak sekuat yang ia mampu,
namun tetap tahu kepada siapa ia harus bersandar.
