Di tengah narasi besar bahwa Indonesia sedang “susah cari kerja”, muncul ironi yang kian sering terdengar dari para pelaku usaha dan institusi pendidikan: justru semakin sulit mencari karyawan yang siap kerja dan punya kompetensi. Sebuah pengakuan jujur dari seorang pengelola program pendidikan bahasa asing di Jakarta menjadi potret nyata keganjilan ini.
Ia membuka lowongan guru bahasa asing untuk persiapan program baru. Informasi lowongan itu telah ditonton lebih dari 100 ribu kali, fasilitas yang ditawarkan pun tidak main-main: biaya kepindahan dari daerah ditanggung penuh, gaji di atas UMR Jakarta—bahkan menembus Rp5,5 juta per bulan. Namun hasilnya mengejutkan: jumlah pelamar sangat sedikit.
Fenomena ini ternyata bukan kasus tunggal. Sejumlah pelaku usaha lain mengeluhkan hal serupa. Lowongan tersedia, kebutuhan tenaga kerja nyata, tetapi orang dengan skill dan kualifikasi yang sesuai semakin langka. Di titik inilah persoalan ketenagakerjaan Indonesia terlihat lebih dalam dan kompleks: bukan semata soal jumlah lapangan kerja, melainkan kualitas sumber daya manusianya.
Data yang Membuat Terdiam
Kegelisahan itu menemukan jawabannya saat menengok data Tes Kemampuan Akademik terbaru siswa SMA. Dari sekitar 3,4 juta peserta, nilai rata-rata Matematika hanya 32,6 dari 100, sementara Bahasa Inggris bahkan tak sampai 25 dari 100. Angka ini sudah dirata-ratakan, artinya mencerminkan kondisi umum—bukan hanya mereka yang tertinggal.
Data tersebut menjadi alarm keras. Bagaimana mungkin dunia kerja berharap pada lulusan baru jika kemampuan dasar numerasi dan bahasa asing berada di level memprihatinkan? Di saat yang sama, dunia industri bergerak cepat, teknologi berkembang pesat, dan pekerjaan ber-skill rendah perlahan digantikan oleh robot dan kecerdasan buatan (AI).
Antara Sistem yang Lemah dan Tanggung Jawab Pribadi
Tak bisa dipungkiri, masalah ini berakar pada sistem. Sekolah yang rusak, kualitas guru yang belum merata, kurikulum yang kerap berubah, hingga kebijakan yang kadang “memerdekakan untuk tidak belajar” menjadi bagian dari persoalan struktural yang belum tuntas. Pemerintah jelas memegang peran besar dalam membenahi fondasi pendidikan nasional.
Namun, berhenti di situ saja tidak cukup. Narasi ini juga mengajak kita berkaca sebagai individu. Di era ketika akses internet terbuka lebar, ironi muncul ketika waktu dan energi justru habis untuk scrolling tanpa arah, konten hiburan dangkal, dan distraksi yang tak membangun kapasitas diri.
“Kalau masih miskin, ya belajar yang rajin supaya nasib bisa berubah,” begitu pesan lugas yang mengandung kejujuran pahit. Ini bukan menyalahkan korban, melainkan mengajak generasi muda merebut kembali kendali atas masa depannya.
Jalan ke Depan: Dari Keluhan ke Kesadaran
Indonesia tidak kekurangan bonus demografi, tetapi bonus itu bisa berubah menjadi beban jika kualitas manusianya tidak ditingkatkan. Mimpi menjadi negara maju pada 2045 akan sulit terwujud jika generasi produktifnya terjebak pada kompetensi rendah dan mentalitas instan.
Berita ini bukan untuk menyudutkan, melainkan membangunkan. Lowongan kerja ada. Kesempatan terbuka. Dunia membutuhkan tenaga terampil. Pertanyaannya kini bergeser: apakah kita sedang mempersiapkan diri untuk mengisinya?
Di tengah ketidakpastian global, satu hal tetap relevan dan tak tergantikan oleh AI mana pun: kemauan belajar, disiplin meningkatkan skill, dan keberanian berbenah diri. Karena masa depan bangsa, pada akhirnya, tidak hanya ditentukan oleh kebijakan negara, tetapi juga oleh pilihan-pilihan kecil yang diambil warganya setiap hari.
