DOA MUSTAJAB: APAKAH ALLAH LEBIH DEKAT DI TEMPAT TERTENTU?

CenterSoboratan
0
DOA MUSTAJAB: APAKAH ALLAH LEBIH DEKAT DI TEMPAT TERTENTU?


Pertanyaan ini menyentuh persoalan yang sangat dalam: kalau Allah Mahaadil, mengapa sebagian manusia diberi kesempatan berada di tempat dan waktu yang disebut mustajab, sementara yang lain tidak? Apakah berarti doa orang yang berada di Masjidil Haram lebih "didengar" daripada doa orang yang menangis sendirian di kamar? Apakah doa pendosa tertutup? Dan kalau doa memang dijamin dijawab, mengapa begitu banyak doa yang tidak menjadi kenyataan?
Dalam perspektif Islam, persoalan ini menjadi jauh lebih menarik apabila kita membedakan antara doa, ijabah, dan terkabulnya permintaan.
Ada sebuah kesalahpahaman yang sangat manusiawi.
Kita membayangkan:
Mekah = Allah lebih dekat.
Sepertiga malam = Allah lebih dekat.
Masjid = Allah lebih dekat.
Rumah = Allah agak jauh.
Kalau begitu, muncul pertanyaan keadilan:
Bagaimana dengan orang miskin yang tidak mampu ke Mekah?
Bagaimana dengan orang sakit yang tidak mampu bangun malam?
Bagaimana dengan orang yang bekerja malam?
Bagaimana dengan seseorang yang bahkan tidak memiliki kesempatan pergi ke masjid?
Apakah doa mereka menjadi doa kelas dua?
Tidak.
Sebab dalam tauhid, Allah tidak berada di suatu tempat sehingga harus didekati secara geografis.
Al-Qur'an justru mengatakan:
"Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
(QS. Qaf: 16)
Dalam tradisi teologi Islam juga ditegaskan bahwa Allah tidak dibatasi ruang dan waktu; tidak ada ruang yang dapat membatasi-Nya dan Dia tidak lebih dekat kepada satu tempat dibanding tempat lainnya.
Jadi kalau seseorang berdoa di Mekah, bukan berarti Allah berada lebih dekat secara fisik kepadanya.
Lalu apa yang dimaksud dengan waktu dan tempat mustajab?
Di sinilah kita perlu masuk lebih dalam.
1. MUSTAJAB BUKAN BERARTI ALLAH HANYA MENDENGAR DI SANA
Al-Qur'an memberikan sebuah ayat yang luar biasa:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku."
(QS. Al-Baqarah: 186)
Perhatikan sesuatu.
Allah tidak mengatakan:
"Aku hanya menjawab doa orang yang berada di tempat tertentu.
Tidak.
Ayat itu berbicara langsung tentang:
hamba → Allah → doa → jawaban.
Bahkan tidak ada perantara geografis di dalam struktur ayat itu.
Karena itu, mustajab bukan monopoli lokasi.
Mekah tidak memiliki Allah lebih banyak daripada tempat lain.
Masjid tidak memiliki Allah lebih banyak daripada rumah.
Sepertiga malam tidak membuat Allah tiba-tiba menjadi lebih mendengar.
Yang berubah adalah kondisi manusia dan kapasitas penerimaannya.
2. WAKTU DAN TEMPAT MUSTAJAB ADALAH "RUANG KESIAPAN"
Ini bisa kita pahami secara filosofis.
Ada perbedaan antara:
sumber cahaya
dan
kondisi penerima cahaya.
Matahari tetap bersinar.
Tetapi jendela yang terbuka akan menerima cahaya lebih banyak daripada jendela yang tertutup.
Bukan karena matahari lebih dekat kepada jendela pertama.
Tetapi karena:
jendela pertama lebih terbuka.
Begitu pula waktu dan tempat mustajab.
Sepertiga malam dapat membuat manusia lebih sunyi.
Masjid mengurangi distraksi.
Arafah menciptakan suasana kolektif.
Lailatul Qadar mengondisikan jiwa untuk kontemplasi.
Mekah menghadirkan pengalaman spiritual dan simbol tauhid yang sangat kuat.
Jadi keutamaan waktu dan tempat adalah sarana untuk meningkatkan kesiapan manusia menerima rahmat, bukan indikasi bahwa Allah lebih dekat secara geografis.
Tradisi Islam memang menganjurkan waktu-waktu tertentu—seperti dini hari, setelah salat, ketika hujan, dan berbagai kondisi spiritual lainnya—sebagai kesempatan yang sangat baik untuk berdoa.
3. LALU APAKAH ORANG YANG TIDAK MENDAPAT KESEMPATAN ITU DIRUGIKAN?
Tidak.
Karena Allah tidak menilai manusia berdasarkan kesempatan yang dimiliki orang lain.
Allah menilai manusia berdasarkan:
apa yang dilakukan dengan kesempatan yang diberikan kepadanya.
Seseorang mungkin mempunyai kesempatan pergi ke Mekah tetapi hatinya tidak hadir.
Seseorang mungkin berada di Masjidil Haram tetapi pikirannya hanya pada bisnis.
Sementara seorang ibu di rumah, seorang pekerja di pabrik, seorang sopir di jalan, atau seorang pemuda yang menangis sendirian pada pukul dua pagi bisa berada dalam keadaan munajat yang sangat dalam.
Secara geografis mereka jauh dari Ka'bah.
Tetapi secara batin mereka mungkin sedang sangat dekat kepada Allah.
Ini sejalan dengan prinsip Al-Qur'an:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah: 286)
Dan dalam tradisi Islam, kedekatan kepada Allah tidak dibatasi tempat. Bahkan dalam doa-doa Imam Ali, Allah disebut sebagai Yang dekat kepada orang yang memanggil-Nya, termasuk mereka yang berdoa dengan suara sangat pelan dan dari kedalaman hati.
4. JADI APA ARTI "DOA MUSTAJAB"?
Di sinilah istilah ijabah perlu dibedakan dari pemberian persis seperti yang diminta.
Ini sangat penting.
Kita sering mengartikan:
mustajab = saya meminta X → Allah memberikan X.
Padahal dalam tradisi Islam, ijabah tidak identik dengan pemenuhan literal permintaan pada saat yang kita inginkan.
Sumber-sumber Islam menjelaskan bahwa sebuah doa dapat diterima tetapi pemberiannya ditunda, dialihkan, atau hasilnya tidak langsung terlihat. Bahkan ada riwayat tentang seseorang yang doanya diterima tetapi permintaannya tidak segera diberikan.
Maka:
Ijabah ≠ selalu "Allah memberikan persis apa yang saya minta."
Ijabah berarti:
Allah merespons doa itu dalam tata kebijaksanaan-Nya.
Respons tersebut dapat berupa:
1. diberikan persis seperti yang diminta;
2. diberikan tetapi waktunya ditunda.
3. diberikan dalam bentuk yang berbeda;
4. suatu keburukan dijauhkan;
5. doa menjadi sebab perubahan diri;
6. pahala dan buah spiritualnya disimpan untuk akhirat.
Karena manusia hanya melihat satu potongan waktu, sedangkan Allah mengetahui keseluruhan perjalanan.
5. "TAPI SAYA SUDAH BERDOA, KENAPA BELUM DIKABULKAN?"
Pertanyaan ini sangat manusiawi.
Tetapi ada sebuah persoalan epistemologis:
Bagaimana kita tahu bahwa doa kita tidak dijawab?
Misalnya seseorang meminta:
"Ya Allah, berikan saya pekerjaan itu."
Ia tidak mendapat pekerjaan tersebut.
Ia berkata:
"Allah tidak mengabulkan doa saya."
Belum tentu.
Mungkin pekerjaan itu memang bukan jalan terbaik.
Mungkin beberapa tahun kemudian ia baru memahami.
Mungkin pekerjaan itu akan membuat keluarganya hancur.
Mungkin ia mendapat pekerjaan lain yang lebih sesuai.
Atau mungkin manfaat doanya tidak terletak pada pekerjaan itu sama sekali.
Karena itu dalam Sahifah Sajjadiyah mengajarkan bentuk doa yang sangat menarik: manusia membawa kebutuhan dan kemiskinannya kepada Allah sekaligus mengakui bahwa hikmah Allah tidak dapat diubah oleh permintaan manusia.
Ini sangat dalam.
Doa bukan:
"Ya Allah, saya tahu apa yang terbaik. Tolong laksanakan."
Tetapi:
"Ya Allah, saya tahu apa yang saya inginkan. Tetapi Engkau lebih mengetahui apa yang saya butuhkan."
Itulah pergeseran dari permintaan kepada ketundukan.
6. APAKAH ADA DOA YANG TIDAK MUSTAJAB?
Kalau "tidak mustajab" berarti:
Allah tidak mendengar sama sekali,
maka jawabannya secara tauhid:
Tidak.
Tidak ada doa yang tersembunyi dari Allah.
Tetapi kalau "tidak mustajab" berarti:
permintaan tidak diberikan sebagaimana diminta,
maka:
Ya, bisa terjadi.
Dan ini bukan berarti Allah tidak adil.
Karena doa bukan kontrak:
"Saya meminta → Allah wajib memberikan."
Allah bukan mesin vending spiritual.
Masukkan doa.
Keluar keinginan.
Tidak.
Hubungan manusia dengan Allah bukan hubungan transaksi.
7. DOA BUKAN CARA MEMAKSA KEHENDAK TUHAN
Ini salah satu titik penting dalam Islam.
Orang yang belum matang secara spiritual menggunakan doa untuk berkata:
"Ya Allah, ubahlah keadaan sesuai keinginanku."
Orang yang mulai mengenal Allah berkata:
"Ya Allah, ubahlah keadaan jika perubahan itu baik bagiku."
Orang yang semakin matang berkata:
"Ya Allah, ubahlah aku agar mampu menerima kebenaran-Mu dalam keadaan apa pun."
Dan orang yang semakin dalam:
"Ya Allah, jangan jadikan keinginanku sebagai Tuhan kecil yang mengalahkan kehendak-Mu."
Di sini doa berubah dari:
alat mendapatkan sesuatu
menjadi:
jalan menuju Allah.
Itulah dimensi irfani doa.
8. LALU BAGAIMANA DENGAN PENDOSA?
Ini justru salah satu bagian paling indah dalam Islam.
Bayangkan seorang pelaku maksiat.
Ia merasa:
"Aku terlalu kotor."
"Aku terlalu banyak dosa."
"Pantaskah aku berdoa?"
Kalau ia berpikir demikian, ia justru semakin jauh.
Al-Qur'an tidak mengatakan:
"Berdoalah hanya kalau engkau sudah menjadi orang suci."
Allah justru membuka pintu:
"Janganlah berputus asa dari rahmat Allah."
(QS. Az-Zumar: 53)
Tradisi Islam bahkan menekankan pengakuan dosa dan pertobatan sebagai bagian penting dari adab doa. Islam mengajarkan agar seseorang memuji Allah, bersalawat kepada Nabi dan keluarganya, mengakui dosanya dan bertobat sebelum menyampaikan permohonannya.
Perhatikan:
orang berdosa tidak disuruh menjauh dari doa.
Ia justru disuruh:
datang kepada Allah dengan dosanya.
9. DOSA TIDAK MENUTUP PINTU DOA; YANG BERBAHAYA ADALAH KESOMBONGAN
Ini perbedaan yang penting.
Seorang pendosa yang berkata:
"Ya Allah, aku salah. Aku tidak punya alasan. Tolong aku berubah."
Pendosa bisa berada dalam keadaan spiritual yang jauh lebih jujur daripada seseorang yang rajin beribadah tetapi berkata:
"Aku sudah baik. Allah pasti harus mengabulkan doaku."
Yang pertama memiliki:
iftiqar — kesadaran akan kebutuhan kepada Allah.
Yang kedua bisa terjebak:
ujub — merasa hebat karena amalnya.
Dalam irfan, rasa membutuhkan Allah justru merupakan pintu kedekatan.
Di dalam Sahifah Sajjadiyah digambarkan bahwa manusia sebagai makhluk yang fakir di hadapan Allah dan tidak dapat memenuhi kekurangannya kecuali melalui-Nya.
Maka terkadang:
dosa membuat seseorang jatuh.
Tetapi kesadaran atas dosa dapat membuatnya menangis.
Dan tangisan itu bisa menjadi awal perjalanan pulang.
10. TETAPI APAKAH BERARTI DOSA TIDAK BERDAMPAK PADA DOA?
Tidak juga.
Tradisi Islam sangat jelas mengenai adanya kondisi yang menjadi penghalang ijabah.
Di antaranya:
kezaliman terhadap orang lain;
harta yang haram;
tidak memenuhi hak manusia;
ketidakjujuran;
terus-menerus melakukan dosa tanpa pertobatan;
hati yang tidak tulus;
meminta sesuatu yang zalim atau merusak.
Sumber-sumber Islam tentang adab doa menyebut antara lain pemenuhan haqqun-nas, penghasilan halal, silaturahmi, sedekah, ketaatan dan menjauhi dosa sebagai bagian dari kesiapan doa.
Jadi:
Pendosa masih boleh berdoa.
Bahkan harus berdoa.
Tetapi doa seharusnya menjadi bagian dari proses:
berhenti → sadar → menyesal → memperbaiki → memohon.
Bukan:
berbuat zalim → berdoa → meminta Allah mengamankan hasil kezalimannya.
11. ADA SATU HAL YANG LEBIH DALAM: DOA ADALAH SEBAB
Ini berkaitan dengan qadha dan qadar.
Kadang orang berpikir:
"Kalau semua sudah ditentukan Allah, untuk apa berdoa?"
Imam al-Sadiq justru mengajarkan agar keyakinan terhadap qadha dan qadar tidak membuat manusia berhenti berdoa. Dalam riwayat yang dinukil dari beliau, doa disebut sebagai salah satu sebab yang dapat memengaruhi perjalanan takdir. Bahkan terdapat riwayat yang menyatakan bahwa doa dapat menolak qadha.
Ini bukan berarti manusia "mengubah rencana Allah."
Lebih tepat:
Doa itu sendiri termasuk bagian dari sistem sebab-akibat yang Allah ciptakan.
Sebagaimana:
obat menjadi sebab kesembuhan,
makanan menjadi sebab kenyang,
belajar menjadi sebab ilmu,
kerja menjadi sebab penghasilan,
maka:
doa juga menjadi sebab terjadinya suatu kemungkinan.
Allah tidak hanya menentukan:
"Apa yang terjadi."
Tetapi juga menentukan:
"Melalui sebab apa sesuatu terjadi."
Dan doa adalah salah satu sebab.
12. MAKA DOA DAN IKHTIAR SEBENARNYA TIDAK TERPISAH
Ini berhubungan dengan kajian kita sebelumnya tentang ikhtiar dan tawakal.
Orang meminta rezeki:
berdoa + bekerja.
Meminta kesembuhan:
berdoa + berobat.
Meminta ilmu:
berdoa + belajar.
Meminta keluarga harmonis:
berdoa + memperbaiki perilaku.
Meminta perubahan masyarakat:
berdoa + bergerak.
Doa bukan pengganti ikhtiar.
Doa adalah salah satu bentuk ikhtiar yang menghubungkan manusia dengan sumber seluruh sebab.
13. LALU APA FUNGSI TEMPAT MUSTAJAB?
Kalau begitu mengapa Allah memberikan keutamaan kepada tempat tertentu?
Karena manusia adalah makhluk yang memiliki tubuh, ruang, waktu, simbol dan suasana.
Manusia tidak hanya berubah melalui argumen.
Manusia berubah melalui pengalaman.
Maka Allah menyediakan:
Mekah,
Arafah,
masjid,
Ramadan,
Lailatul Qadar,
sepertiga malam,
dan berbagai momentum spiritual
sebagai pendidikan jiwa.
Tempat dan waktu itu seperti:
laboratorium spiritual.
Bukan karena Allah berada lebih banyak di sana.
Tetapi karena manusia lebih mudah membuka dirinya di sana.
14. INI SEPERTI HUJAN
Rahmat Allah seperti hujan.
Hujan jatuh ke mana-mana.
Tetapi tanah yang dibajak menyerapnya lebih baik.
Tanah yang keras membutuhkan proses.
Tanah yang tertutup beton hampir tidak menyerapnya.
Apakah hujan pilih kasih?
Tidak.
Kondisi tanah yang berbeda menghasilkan kemampuan menerima yang berbeda.
Begitu pula manusia.
Waktu mustajab adalah kesempatan untuk "membajak tanah jiwa".
Tetapi seseorang tidak harus menunggu Lailatul Qadar untuk membuka hati.
Ia bisa menangis:
di kamar,
di kendaraan,
di tempat kerja,
di rumah sakit,
di sawah,
di tengah malam,
bahkan di tengah keramaian.
Karena Allah tidak tinggal di satu lokasi.
15. IRFAN: DOA YANG PALING DALAM BUKAN MEMINTA "SESUATU"
Ini bagian yang sangat penting.
Ada tingkatan doa.
Tingkat pertama: doa kebutuhan
"Ya Allah, berikan aku pekerjaan."
"Sembuhkan aku."
"Berikan aku rezeki."
Ini manusiawi.
Dan Islam tidak melarangnya.
Tingkat kedua: doa keselamatan
"Ya Allah, berikan yang terbaik bagiku."
Manusia mulai menyadari keterbatasan pengetahuannya.
Tingkat ketiga: doa transformasi
"Ya Allah, ubah diriku."
Bukan lagi:
"ubah dunia supaya sesuai denganku."
Tetapi:
"ubah aku agar mampu menghadapi dunia dengan benar."
Tingkat keempat: doa kedekatan
"Ya Allah, jangan jauhkan aku dari-Mu."
Di sini kebutuhan dunia mulai menjadi sekunder.
Tingkat kelima: doa keridaan
"Ya Allah, jadikan aku ridha kepada apa yang Engkau ridhai."
Ini bukan berarti pasif.
Bukan berarti menerima kezaliman.
Tetapi menerima bahwa Allah lebih mengetahui keseluruhan realitas daripada ego manusia.
Imam Zayn al-Abidin dalam doa istikhara memohon agar manusia diberi pengetahuan untuk memilih yang terbaik dan kemudian memperoleh kerelaan terhadap apa yang telah Allah tetapkan.
16. LALU APA JAMINAN DOA AKAN TERKABUL?
Pertanyaannya harus diubah.
Bukan:
"Apa jaminan saya mendapatkan apa yang saya minta?"
Tetapi:
"Apa jaminan bahwa doa saya tidak sia-sia?"
Dan di sini jawabannya jauh lebih kuat:
Tidak ada doa yang sia-sia jika ia benar-benar menjadi hubungan dengan Allah.
Sebab bahkan ketika permintaan tidak diberikan, doa dapat:
mengubah hati,
menghapus kesombongan,
menghidupkan harapan,
membuat manusia bertobat,
membuka jalan yang tidak terlihat,
menghindarkan keburukan,
mendekatkan manusia kepada Allah,
dan menjadi bekal akhirat.
Karena itu tradisi Islam memandang doa bukan sekadar alat mendapatkan kebutuhan, tetapi juga ibadah dan sarana penyempurnaan jiwa.
17. ADA PARADOKS YANG INDAH
Kadang kita berdoa:
"Ya Allah, kabulkan doaku."
Tetapi semakin dekat kepada Allah, kita mulai berkata:
"Ya Allah, kabulkanlah apa yang baik bagiku, bukan sekadar apa yang kuinginkan."
Kemudian semakin matang:
"Ya Allah, kalau Engkau tidak memberikannya, jangan biarkan aku kehilangan-Mu karenanya."
Dan akhirnya:
"Ya Allah, aku datang bukan hanya karena pemberian-Mu. Aku datang karena Engkau."
Di titik itu doa telah berubah.
Dari:
permintaan
menjadi:
perjumpaan.
18. MAKA SIAPA YANG PALING MUSTAJAB?
Bukan otomatis orang yang berada di tempat paling suci.
Bukan otomatis orang yang memakai pakaian paling putih.
Bukan otomatis orang yang memiliki gelar agama.
Bukan otomatis orang yang tidak pernah berdosa.
Dan bukan pula otomatis orang yang doanya paling panjang.
Yang penting adalah:
kejujuran hati,
ketundukan,
kesadaran akan kebutuhan kepada Allah,
pertobatan,
kehalalan hidup,
tidak menzalimi manusia,
dan kesediaan menerima hikmah Allah.
Dalam sebuah riwayat yang dinukil dari Imam al-Sadiq bahkan terdapat gagasan bahwa doa seseorang bisa diterima tetapi pemberiannya ditunda agar ia terus memanggil Allah.
Ini membuat kita melihat sesuatu yang mengejutkan:
Kadang yang kita anggap "doa belum dikabulkan" justru merupakan cara Allah mempertahankan hubungan kita dengan-Nya.
19. DAN ADA ORANG YANG BERDOA DI TEMPAT SUCI TETAPI TIDAK BERUBAH
Ini juga harus dikatakan.
Seseorang bisa:
pergi ke Mekah,
menangis di depan Ka'bah,
berdoa di malam Lailatul Qadar,
membaca ribuan doa,
tetapi setelah pulang:
tetap menzalimi orang,
tetap mengambil hak orang lain,
tetap korup,
tetap sombong,
tetap menghina manusia,
tetap memakan yang haram.
Maka apa yang sebenarnya terjadi?
Ia mungkin memperoleh pengalaman emosional spiritual, tetapi belum tentu mengalami transformasi spiritual.
Dalam perspektif irfan, ukuran kedekatan kepada Allah bukan sekadar seberapa emosional seseorang ketika berdoa.
Tetapi:
apa yang terjadi pada dirinya setelah doa selesai.
Kalau doa membuat kita lebih lembut:
doa bekerja.
Kalau doa membuat kita lebih jujur:
doa bekerja.
Kalau doa membuat kita lebih adil:
doa bekerja.
Kalau doa membuat kita lebih sabar:
doa bekerja.
Kalau doa membuat kita lebih takut menzalimi manusia:
doa bekerja.
20. Jadi jangan merasa kalah hanya karena tidak bisa pergi ke tempat mustajab
Ini mungkin pesan paling penting bagi orang yang hidup dalam keterbatasan.
Tidak semua orang punya uang pergi ke Mekah.
Tidak semua orang bisa bangun tahajud setiap malam.
Tidak semua orang bisa pergi ke masjid.
Tidak semua orang bisa berada di Arafah.
Tetapi semua orang punya: HATI
Dan hati itu bisa mengetuk pintu Allah kapan saja.
Seorang buruh yang berdoa sambil bekerja.
Seorang ibu yang menangis dalam diam.
Seorang ayah yang berdoa untuk anaknya.
Seorang pemuda yang menyesal setelah maksiat.
Seorang pasien yang hanya mampu berbisik.
Seorang musafir yang sendirian.
Seorang manusia yang tidak memiliki apa-apa selain:
"Ya Allah, aku tidak tahu harus ke mana lagi."
Jangan pernah meremehkan doa seperti itu.
Karena dalam irfan:
Saat seluruh pintu makhluk tertutup dan manusia menyadari bahwa dirinya benar-benar fakir, di situlah pintu tauhid mulai terbuka.
Kesimpulan: Mustajab Bukan Tentang Jarak
Maka kita bisa merumuskan kajian ini dalam beberapa prinsip.
Pertama:
Allah tidak lebih dekat secara geografis di Mekah daripada di rumah kita. Allah melampaui ruang dan waktu.
Kedua:
Waktu dan tempat mustajab adalah kesempatan spiritual, bukan monopoli rahmat Allah.
Ketiga:
Orang yang tidak memperoleh kesempatan tersebut tidak otomatis kehilangan kesempatan untuk dekat kepada Allah.
Keempat:
Ijabah tidak selalu identik dengan pemberian persis seperti permintaan.
Kelima:
Doa dapat diterima tetapi pemberiannya ditunda, dialihkan, atau menghasilkan bentuk kebaikan yang tidak segera terlihat.
Keenam:
Pendosa tidak dilarang berdoa. Justru doa dapat menjadi pintu pertobatan. Tetapi dosa, kezaliman, harta haram dan tidak memenuhi hak manusia dapat menjadi penghalang spiritual.
Ketujuh:
Doa bukan lawan qadha dan qadar. Dalam riwayat Imam al-Sadiq, doa sendiri merupakan bagian dari sebab yang Allah gunakan dalam perjalanan takdir.
Kedelapan:
Dalam irfan, doa tertinggi bukan hanya:
"Ya Allah, berikan apa yang aku mau."
Tetapi:
"Ya Allah, dekatkan aku kepada-Mu melalui apa pun yang Engkau berikan dan apa pun yang Engkau tahan."
Dan mungkin di situlah rahasia terbesar doa.
Sebuah renungan
Jangan berpikir:
"Dia bisa pergi ke Mekah, sedangkan aku tidak. Berarti dia memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan Allah."
Tidak.
Bisa jadi dia memiliki kesempatan pergi ke Ka'bah, sementara engkau diberi kesempatan menemukan Ka'bah di dalam kesadaranmu.
Bisa jadi dia diberi kesempatan menangis di Arafah.
Engkau diberi kesempatan menangis sendirian di kamar.
Bisa jadi dia memiliki Lailatul Qadar di masjid.
Engkau memiliki satu malam ketika hidupmu hancur, semua sandaranmu hilang, dan hanya tersisa satu kalimat:
"Ya Allah..."
Dan mungkin—justru pada saat itulah engkau benar-benar mulai mengenal siapa dirimu dan kepada siapa engkau selama ini bergantung.
Karena pada akhirnya,
Allah tidak membutuhkan tempat untuk mendengar kita.
Kitalah yang membutuhkan tempat dan waktu untuk belajar mendengar Allah.
Dan doa yang paling dalam bukan ketika keinginan kita berhasil memaksa pintu langit terbuka.
Tetapi ketika:
hati kita begitu terbuka sehingga apa pun jawaban Allah—pemberian, penundaan, pengalihan, atau penolakan—tidak membuat kita meninggalkan-Nya.
Itulah tauhid dalam doa.
Dan mungkin itulah makna terdalam dari mustajab:
"bukan selalu mendapatkan apa yang kita minta, tetapi tidak pernah pulang dari pintu Allah dengan sia-sia."
Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default